Sembilan Keramat diberikan pada Orang yang Sholat

الْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ الْعَظِيْمِ الْجَبَّارِ. الْمُتَفَرِّدِ بِالإِيْجَادِ ‏وَاْلإِخْتِيَارِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ مُعْتَرِفٍ لَهُ بِالتَّقْصِيْرِ بِذُلٍّ ‏وَانْكِسَارٍ. وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ اْلغِزَارِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ ‏لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً شَاهِدَةً بِصِحَّةِ اْلإِقْرَارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا ‏عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ ‏وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ اْلأَخْيَارِ.‏
‏ (أَمَّا بَعْدُ) فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ : اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِى اْلإعْلاَنِ وَاْلإسْرَارِ، فَإنَّ ‏تَقْوَاهُ هِىَ اْلوِقَايَةُ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. وَعَلَيْكُمُ الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةَ ‏الْوُسْطَى مَعَ الْخُشُوْعِ وَالْوَقَارِ, فَمَنْ أَقَامَهَا فَهُوَ مِنَ الْخِيَارِ, وَمَنْ ‏هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ دِيْنَ الْخِيَارِ.‏
Kaum Muslimin jama’ah Jum’ah yang ‎berbahagia
Di tempat serta di hari yang penuh ‎berkah ini, marilah kita bina dan senantiasa ‎kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh ‎dengan mejalankan segala perintah-Nya dan ‎menjauhi segala Larangan-Nya.‎
Alhamdulillah pada hari ini kita telah ‎memasuki Bulan Rajab, bulan diwajibkannya ‎sholat lima waktu, Sholat adalah merupakan ‎pilar agama islam menegakkanya berarti ‎menegakkan agama Islam, merobohkanya ‎berarti merobohkan agama Islam, tidak ‎peduli pada sholat pasti lebih tidak peduli ‎terhadap kewajiban2 yang lain, sesungguhnya ‎sholat itu sangat berat dilakukan kecuali oleh ‎orang-orang yang khusu’ yakni orang-orang ‎yang punya keyakinan bertemu dengan Alloh ‎subkhanahu wata’ala diakhirat nanti. ‎
Sholat dapat mencegah perbuatan yang keji ‎dan mungkar, sholat itu merupakan sarana ‎komunikasi dengan Alloh, sholat yang ‎dilalaikan akan membuat celaka sholat ‎merupakan amal yang paling mendominasi ‎terhadap timbangan hisab kelak di hari ‎kiamat. Baginda Nabi r telah bersabda :‎

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ ‏الْقِيَامَةِ اَلصَّلاَةُ، فَإِنْ وُجِدَتْ تَامَّةً قُبِلَتْ وَسَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ وُجِدَتْ ‏نَاقِصَةً رُدَّتْ وَسَائِرُ عَمَلِهِ.‏
Artinya : Nabi r bersabda : “Pertama yang ‎dihitung dari amalnya hamba pada hari ‎kiamat adalah sholat, bila sholatnya ‎ditemukan sempurna maka niscaya amal-‎amal yang lain akan diterima jua, namun jika ‎sholatnya ditemukan kurang, niscaya amal-‎amal yang lain ikut tertolak”.‎
ِkarna itu marilah bulan rajab ini kita jadikan ‎moment untuk meningkatkan kwalitas dan ‎kwantitas ibadah sholat.‎
Bila dulu sering qodlo’ marilah mulai detik ini ‎kita ikrar secara sungguh-sungguh untuk ‎mengerjakannya tepat waktu bahkan diawal ‎waktu, kalau belum bisa mengerjakanya ‎diawal waktu maka diawal waktu tersebut ‎hati kita diwajibkan untuk Niat untuk ‎mengerjakanya sebelum waktunya habis.‎
Kalau dulu belum bisa khusu’ marilah kita ‎berusaha sekuat tenaga agar sholat kita bisa ‎khusu’, kalu dulu hanya mengerjakan sholat ‎fardlu saja marilah mulai sekarang kitah ‎tambah dengan mengerjakan sholat sunah ‎rowatib sebagai sarana untuk lebih ‎mendekatkan diri Pada Alloh SWT

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : ‏افْتَرَضْتُ عَلَى أُمَّتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ ، وَعَهِدْتُ عِنْدِي عَهْدًا , أَنَّهُ مَنْ ‏حَافَظَ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ , أَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلاَ ‏عَهْدَ لَهُ عِنْدِي.‏
عَن عَبْد اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ ‏الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ فَقَالَ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً ‏يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ لَمْ يَكُنَّ لَهُ نُورًا وَلا بُرْهَانًا وَلا ‏نَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكَانَ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

Sayyidina Usman RA Berkata:‎
من حفظ الصلو ات الخمس لوقتها وداوم عليها اكرمه الله بتسع ‏كرامات
Barang siapa menjaga sholat lima waktu dan ‎kontinu melaksanakannya maka Allah akan ‎memberه‎ 9 keramat ( kemuliaan) ‎
اولها يحبه الله 1‏‎. dicintai Allah ‎
ويكون بدنه صحيحا 2‏‎. badanya sehat
وتحر سه الملائكة 3‏‎. dijaga malaikat ‎
وتنزل البركة فى داره 4‏‎.Keberkhan diturun dalam rumahnya
ويظهر في وجهه سيما الصالحين5‏‎.Tanda orang sholih akan ‎nampak diwajahnya
ويلين الله قلبه 6‏‎. Allah akan menjadikan hatinya lunak ‎
ويمر على الصراط كالبرق اللامع7‏‎. ‎‏ ‏kelak ia akan berjalan ‎diatas shirothol mustaqim secepat kilat
وينجيه الله من النار 8‏‎. Allah akan menyelamatkannya dari neraka ‎
وينزله الله في جوار الذين لا خوف عليهم ولاهم يحزنون 9‏‎. ‎
Allah akan menempatkannya bersanding dengan ‎orangxx yang tiada punya kesedihan dan kesusahan ‎‎(para wali)‎
بَارَكَ الله ُلِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ العَظِيْمِِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالآيَاتِ وَالذِّكْرِ ‏الْحَكِيْمِ، إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ، مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ ‏الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ﴿ وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ، وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى ‏الْخَاشِعِينَ. الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴾ وَقُلْ ‏رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Haruskah Tradisi di Berangus???

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus utusannya memberi petunjuk dan agama yang haq. Rahmat dan keselamatan terlimpahkan kepada baginda Muhammad yang di utus untuk menyempurnakan ahlaq semoga pula kepada keluarga dan sahabat juga pengikut mereka yang penuh dengan ahlaq.
Sebagaimana hadits yang sering kita dengar, Rosulullah bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Saya di utus hanya untuk menyempurnakan ahlaq”
Dari hadits ini berasumsi bahwa sebelum Nabi Muhammad sudah ada ahlaq walau tidak sempurna, yaitu, budaya dan tradisi orang arab. Jadi, agama haq yang di bawa muhammad bukan merubah budaya dan tradisi. Tapi, menyempurnakan budaya dan tradisi yang belum sempurna. Hal ini nampak sekali dari sabda beliau:
اتق الله حيثما كنت واتبع السنة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن
“Taqwalah kepada Allah dan tutuplah perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik maka akan menghilangkan kejelekan tersebut dan berperilakulah pada manusia dengan perlakuan yang baik”.
Baginda Ali bib Abi tholib seorang sahabat Nabi yang pernah di tanya tentang pengertian prilaku yang baik dalam hadits:
وخالق الناس بخلق حسن
Beliau menjawab

Selalu adabtasi dengan budaya dan tradisi dimana kita berdomisili selama tidak bertentangan dengan syar’i atau maksiat sebagaimana keterangan dalam

Dari sinio jelas bahwa agama datang bukan merubah budaya dan tradisi melainkan selalu menjaga budaya dan tradisi selama masih mengandung nilai-nilai agama. Hal ini nampak sekali kalau kita melihat dalam asbab nuzul ayat-ayat al-quran dan al-Hadits yang menjelaskan hukum dengan mempertimbangkan budaya dan tradisi di antaranya adalah:
a. di turunkannya ayat dalam Surat al-Baqarah :
فإذا قضيتم مناسككم فاذكروا الله كذكركم آباءكم أو أشد ذكرا
فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق (200)
ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار (201) * أولئك لهم نصيب مما كسبواوالله سريع الحساب (202)
Artinya; apabila kamu telah menyelesaaikan hajimu maka berdzikirlah dengan menyebut Allah. Sebagaimana kamu menyebut nenek-nenek moyangmu atau berdzikirlah lebih banyak dari itu, maka di antara manusia ada yang berdo’a ya tuhan kami berilah kebaikan di dunia dan tidak ada kebaikan yang menyenangkan di akhirat. (200) dan di antara mereka ada yang berdo’a ya tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkan kami dari siksaan api neraka (201) mereka itulah orang yang mendapatkan kebahagian di akhirat dan Allah sangat cepat menghitungnya (202).

Dalam ayat di atas terdapat perintah Allah untuk memperbanyak dzikir di tanah Mina ketika pari purna melaksanakan ibadah haji dan sekaligus Allah menyebutkan tradisi manusia yang berbeda-beda ada yang hanya ingin berbahagia di dunia. Hal ini di sempurnakan Allah dengan firman-Nya; وما له في الآخرة من خلاق. Mereka di akhirat tidak mendapatkan kebahagiaan dan ada yang tradisi mereka menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat dan dijelaskan Allah dengan أولئك لهم نصيب مما كسبوا sebab di turunkan ayat ini sebagai berikut;
قال مجاهد كان أهل الجاهلية إذا اجتمعوا في الموسم ذكروا فعل آبائهم في الجاهلية و أيامهم و أنسابهم و تفاخروا فأنزل الله تعالى فاذكروا الله كذكركم آباءكم أو أشد ذكرا
قال وقال الحسن يعني البصري كانت العرب إذا حدثوا أو تكلموا يقولون وأبيك أنهم ليفعلون كذا فأنزل الله تعالى هذه الآية اسباب النزول للإمام ابن الحسن من أحمد الواحدى النيسابوري المتوفى سنة 468

Dari asbab nuzul ini sangat jelas sekali bahwa tradisi orang jahiliyah telah berkumpul di muassim (Mina) dengan menyebut perbuatan ayahnya (nenek moyangnya) kemudian perkumpulan tersebut tidaklah dirubah oleh agama islam yang sudah menjadi tradisi, artinya masih telah di abadikan hanya nuansanya yang tidak islami tersebut yakni menyebut nenek moyang di ganti dengan nuansa islami yaitu dzikir kepada Allah.
Kedua; sai yang p[ada awalnya merupakan tradisi jahiliyah dimana kala itu gunung shofa dan mina ada berhala yang namanya asaf (أساف) dan nailah (نائلة). Jahiliyyah ketika sa’i menyentuh kedua berhala tersebut. Ketika islam datang dan berhala tersebut di hancurkan maka orang-orang islam enggan sa’i di antara gunung tersebut. Tapi, justru Allah melegalkan hal ini nampak pada asbab nuzul dalam firman Allah;
إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم (البقرة: 158)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Biografi Imam Abu Dawud

Imam Abu Dawud

Setelah Imam Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh kenamaan ahli hadits pada jamannya. Kealiman, kesalihan dan kemuliaannya semerbak mewangi hingga kini.

Nama Lengkap dan Tahun Kelahirannya:  
Abu Dawud nama lengkapnya ialah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin ‘Amr al-Azdi as-Sijistani, seorang imam ahli hadits yang sangat teliti, tokoh terkemuka para ahli hadits setelah dua imam hadits Bukhari dan Muslim serta pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Cara mengembangkan Aswaja

PENGEMBANGAN AJARAN AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH

Oleh: MUH.ANAS

Pemahaman Aswaja masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam sekitar abad ke-3 Hijriyah atau abad 9 Masehi. Menurut Prof. DR. Alwi Shihab dalam bukunya “Islam Sufistik”, orang-orang Arab-lah pelopor pertama yang memperkenalkan Islam di kepulauan Nusantara, yakni dari keturunan Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir, kemudian dikembangkan oleh para wali songo. Namun dalam perkembangannya mengalami pergeseran-pergeseran sesuai pergerakan waktu. Apalagi penganut atau pendukung-pendukung Aswaja sendiri tidak banyak memahami perbedaan asasi dan perbedaan far’iy antara yang Aswaja dan yang bukan. Pengertian aswaja selama ini masih belum banyak dipahamii secara utuh oleh sebagian masyarakat bahkan warga NU sendiri, di bidang fiqih mereka beranggapan bahwa aswaja hanya masalah qunut, tarawih, adzan dua kali pada waktu jum’at,

Bahkan dikalangan pendukung  Madzahib al Arba’ah sendiri banyak yang tidak memahami, mana qaul yang masih termasuk dalam lingkungan Madzahib al Arba’ah dan mana yang tidak termasuk. Hal itu karena langkanya pengkajian tentang masalah Madzahib. Kadang-kadang pendapat atau qaul Hanafiyah karena  kebetulan berbeda dengan Syafi’iyah, sudah dicap bukan Aswaja. sehingga memungkinkan adanya gesekan-gesekan antara warga NU sendiri. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Aswaja | Meninggalkan komentar

Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup

Islam Masuk ke Nusantara

Saat Rasulullah SAW Masih Hidup

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Maqâshid al-Syarî‘ah

Maqâshid al-Syarî‘ah

Dalam Perspektif Ibnu ‘Asyur

Syariat Islam yang ditujukan untuk seluruh manusia di muka bumi hingga waktu yang tak terbatas mempunyai beberapa konsekuensi penting yang tidak bisa dipungkiri lagi keharusannya. Salah satunya adalah syariat harus sesuai dengan fitrah manusia. Secara alami, jiwa manusia cenderung kepada segala bentuk kemudahan, kelapangan, kenikmatan dan hal-hal lain yang menyenangkan. Pada saat yang sama, jiwa-jiwa itu akan menghindari bentuk-bentuk kesulitan, kesempitan, kesengsaraan dan hal-hal lain yang membuatnya menderita. Pun demikian, manusia mempunyai banyak keterbatasan, sehingga tidak bisa memastikan apa yang baik dan buruk bagi dirinya. Dalam titik inilah syariat Islam menarik untuk diposisikan. Kesesuaiannya dengan fitrah manusia, membuatnya mudah untuk dipahami sekaligus diterapkan dalam kehidupan umat manusia. Hanya saja pada gilirannya,  banyaknya cara pandang yang digunakan melahirkan perbedaan pemahaman yang terkadang tidak cukup beralasan. Dan tampaknya Ibnu ‘Asyur menjadi salah satu dari mereka yang sangat menyesalkan itu. Baginya, diperlukan rambu-rambu khusus yang tidak diragukan lagi kebenarannya untuk dijadikan pedoman umum dalam rangka menghilangkan, atau paling tidak meminimalisir perselisihan yang tidak cukup beralasan. Tawaran itu beliau namakan maqhâsid al-syarî‘ah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Usul feqih | Tag , | Meninggalkan komentar

Metode Istinbat

Ilmu Ushul Fiqh

Oleh : Ali Jum‘ah

Menurut Imam Abu Zahrah, ilmu Ushul Fiqh adalah metodologi yang digunakan para mujtahidîn dalam menggali hukum syar‘i dari nash al-Qur’an ataupun hadits dengan mengidentifikasikan ‘illât dari suatu hukum sesuai dengan tujuan dasar diturunkannya syari’ah. Dengan demikian, ilmu Ushul Fiqh merupakan kumpulan kaidah dasar mengenai sistematika penggalian hukum dari berbagai dalil syar‘i. Maka di dalamnya mencakup kajian mengenai nash secara langsung, seperti sistematika penggalian hukum melalui ilmu semantik, menggabungkan dua nash jika terjadi benturan secara zhahir, atau berupa kajian yang bersifat ma‘nawiyyah yang tidak berhubungan secara langsung dengan nash seperti mengeluarkah illât dalam suatu nash, dan juga penggunaan serta pemilihan metodologi terbaik dalam penggalian hukum syar‘i dari illah tersebut.[1] Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidan, ilmu Ushul Fiqh merupakan ilmu yang menerangkan mengenai kaidah-kaidah dasar dan rumusan global (al-adillah al-ijmâliyyah) yang dapat membantu para mujtahid dalam menggali hukum Fiqh.[2] Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar