MERAWAT ASWAJA MELALUI GORESAN TINTA

MERAWAT ASWAJA MELALUI GORESAN TINTA

Oleh: A. Munjin Nasih[1]

 

Dalam realitas kehidupan seringkali ditemukan kondisi yang paradoksial. Suatu ketika ada seorang yang dikaruniahi kekayaan yang berlimpah dengan timbunan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Namun, mereka tidak mengetahui harus bagaimana mengolah barang yang dimiliki dan menjualnya kepada orang lain. Padahal banyak orang sangat membutuhkan barang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Pada saat yang sama, ada seseorang yang bermodal pas-pasan, hanya karena dia bisa mengemas barang dagangannya dengan baik dengan tambahan promosi yang gencar, justru bisa menarik perhatian masyarakat dan kehadirannya selalu dinanti-nantikan.

Dalam kehidupan keagamaan di sekitar kita, barangkali gambaran di atas tidaklah jauh bebeda. Kalangan pesantren dengan pengetahuan keagamaan yang amat kaya yang didapat dari kitab-kitab kuning tak ubahnya orang yang mempunyai modal dan barang dagangan yang melimpah. Namun, faktanya masyarakat tidak banyak melirik kepada pesantren untuk memenuhi dahaga akan pengetahuan keagamaannya. Sementara itu, pada saat yang sama banyak bermunculan da’i-da’i karbitan dengan ilmu yang pas-pasan, justru diterima dengan baik oleh masyarakat. Tak heran apabila ada di antara kita yang bertanya, mengapa kondisi yang demikian bisa terjadi?

Tulisan singkat berikut ini sengaja tidak dimaksudkan untuk menjawab realita sebagaimana tergambar di atas, sebab kompleksitas problematika tersebut sudah barang tentu tidak dapat dijawab hanya dengan uraian singkat seperti dalam makalah ini. Tulisan ini hanya sekedar ikhtiar untuk mencoba mengurai beberapa potensi kalangan pesantren agar dapat berposisi sebagai pemodal besar yang sekaligus bisa menjajakan dagangannya.


Karya Tulis Pesantren  

Sudah jamak dimaklumi bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki akar historis dan kultural yang sangat kuat dengan bangsa Indonesia. Karena itu, tidaklah berlebihan jika sebagian kalangan menyebut pesantren sebagai lembaga pendidikan indigenous Indonesia, yakni lembaga pendidikan yang original terlahir dari rahim bangsa Indonesia. Sejak kehadirannya di bumi Indonesia, tak terbilang kiranya kontribusi penting pesantren terhadap perjalanan bangsa ini, terutama dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa dan penyiapan SDM yang cerdas, berakhlaq mulia, dan berintegritas tinggi terhadap kebangsaan.

Dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa, satu hal positif yang patut dicatat bahwa dalam perjalananya pesantren telah melahirkan penulis-penulis produktif yang karyanya tidak saja diakui oleh bangsa Indonesia tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz at-Tirmasi, Syekh Ihsan Jampes, KH. Hasyim Asya’ari, KH. R. Asnawi Kudus, dan KH. Bisri Mustofa merupakan sederet nama yang konsisten menuangkan ilmu dan pengetahuan mereka dalam bentuk karya tulis. Dengan cara ini mereka mampu mengekpresikan pemikiran dan pandangan hidup, serta wawasan keilmuannya kepada masyarakat dalam skala yang lebih luas, melewati batas wilayah dan generasi. Dengan tulisan, karya-karya Syekh Nawawi misalnya, masih bisa dinikmati oleh generasi yang hidup pada abad ke 21, padahal beliau telah meninggal pada abad ke 19. Demikian juga tulisan Syekh Ihsan Jampes, bisa dinikmati oleh mahasiswa Islamic Studies di Sorbone University di Perancis.

Namun apabila diperhatikan, sederet nama tersebut di atas adalah santri-santri terbaik produk pesantren masa lalu. Pertanyaannya, sekarang adalah bagaima-na dengan santri produk pesantren masa sekarang? Pada masa sekarang ini, rasanya untuk menemukan penulis-penulis dari kalangan pesantren sekaliber Syekh Nawawi sudah sangat sulit, untuk tidak mengatakan tidak ada. Kalaupun ada, keberadaan mereka dapat dihitung dengan jari dan sangat tidak sebanding dengan jumlah pesantren yang ada di Indonesia. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Yudian Wahyudi, Prof. Thoha Hamim, adalah diantara segelintir santri pesantren yang karyanya mampu berbicara di level internasional. Untuk sekedar diketahui bahwa jumlah pesantren di Indonesia berdasarkan data yang dirilis oleh Kemenag pada tahun 2007 berjumlah 14.656 pesantren. Dari jumlah itu mayoritas berada di Pulau Jawa, 4.404 pesantren berada di Jatim, 4.322 pesantren di Jawa Barat, dan 2.574 pesantren di Jawa Tengah, selebihnya tersebar di seluruh Indonesia. Memang jumlah tersebut tidak semuanya merupakan pesantren yang tergabung ke dalam RMI, akan tetapi menurut keyakinan kami bahwa pesantren yang berafiliasi kepada NU jumlahnya tetap mayoritas.[2]

Lantas, mengapa kondisi yang demikian bisa terjadi di pesantren sekarang ini? Menurut Prof Yudian yang juga alumni pesantren Termas dan Krapyak salah satu kelemahan terbesar pesantren saat ini adalah kurangnya tradisi tulis-menulis. Kalangan pesantren dari masa ke masa hanya membanggakan tradisi pembacaan kitab kuning tanpa dibarengi dengan penuangan kembali hasil bacaanya dalam bentuk tulisan. Bahkan kitab gundul yang memiliki kesulitan luar biasa dikonsumsi secara intensif oleh santri, sehingga kesulitan demi kesulitan bisa ditanggulangi, dan hasilnya mereka terbiasa dan mampu membaca dengan baik.

Selaras dengan pendapat diatas KH. Mustofa Bisri menilai bahwa lesunya karya tulis dari kalangan pesantren disebabkan oleh karena pesantren tidak memberikan ruang yang cukup kepada santri untuk mengekpresikan pemikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Pesantren lebih memberikan kesempatan dalam bentuk oral-aural (lisan dan pendengaran) yang secara teoritis jangkauannya lebih sempit bila dibanding dengan tulis.[3] Kondisi yang demikian secara tidak langsung menjadikan kalangan pesantren tidak mampu berbicara pada level dan skala yang lebih luas. Dengan kata lain, pesantren telah membuang kesempatan kepada santrinya berbicara dengan dunia luar sesuai dengan perspektif pesantren itu sendiri. Akhirnya, kesan yang muncul mengatakan bahwa kalangan pesantren adalah sosok jago kandang yang hanya siap jika bermain di rumahnya sendiri.

Akibat lanjutan dari kondisi yang demikian, seringkali pesantren dipersepsi salah oleh dunia luar, terutama para peneliti dan akademisi yang tidak berlatar-belakang pesantren, hanya disebabkan oleh penggambaran yang tidak utuh terhadap kondisi objektif pesantren. Hal ini dapat dimaklumi mengingat mereka adalah pihak outsider (eksternal) yang cakupan penglihatannya terhadap hal-hal khusus dan hidden (tersembunyi) dalam kehidupan pesantren sangat terbatas. Oleh karena itu, agar terjadi balancing (keseimbangan) informasi, akan jauh lebih baik bila kalangan insider (internal) pesantren berusaha menyampaikan tentang pesantren dan segala yang berhubungan dengannya dari perspektif orang dalam pesantren itu sendiri.

Mengapa Perlu Menulis?

Dalam lintasan sejarah Islam ada sebuah tonggak penting dalam kaitanya dengan budaya tulis menulis, yakni peristiwa kodifikasi (pengumpulan) al-Qur’an yang diprakarsai oleh Umar ibn al-Khattab. Diceritakan bahwa Umar merasa perlu mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an yang berserakan di banyak tempat. Khawatir akan keberlangsungan al-Qur’an, Umar lantas mengusulkan kepada Abu Bakar selaku Khalifah untuk mengambil kebijakan melakukan pembukuan naskah-naskah tersebut. Pada mulanya Abu Bakar menolak ide Umar dengan alasan bahwa yang demikian tidak pernah diperintahkan Nabi. Tetapi selanjutnya Abu Bakar bisa menerima usulan Umar, dan akhirnya dilakukan kodifikasi al-Qur’an untuk yang pertama kali.

Ide besar Umar ibn al-Khattab selanjutnya, menginspirasi Umar ibn Abdul Aziz untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Khalifar Umar ibn Abdul Aziz memerintah-kan Muhammad Ibn Syihab al-Zuhri melalui gubernur Madinah saat itu (Muhammad Ibn Umar Ibn Hazem) untuk melakukan kodifikasi terhadap hadits Nabi.  Inisiatif ini muncul disebabkan oleh kekhawatiran Khalifah Umar akan hilangnya hadits-hadits Nabi yang tercerai berai di antara para sahabat, sementara jumlah sahabat Nabi semakin hari semakin berkurang yang disebabkan oleh meninggal dunia, baik dalam ajang pertempuran atau karena sebab lain.[4]

Hal penting yang bisa ditangkap dari ide Khalifah Umar ibn al-Khattab dan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz bahwa sistem transmisi oral (lisan) terhadap sebuah ide, gagasan, atau pemikiran untuk orientasi jangka panjang memang tidak bisa diandalkan, bahkan pada titik tertentu dapat hilang dan tidak bisa dikenali. Pasalnya, kemampuan manusia untuk menyimpan informasi dalam kurun waktu yang lama memungkinkan terjadinya perubahan materi informasi, yang disebabkan oleh keterbatasan memori otak manusia. Belum lagi kemampuan individu untuk menang-kap informasi yang disampaikan orang lain seringkali tidak bisa sempurna, sehingga tak jarang terjadi misinformasi. Karena itulah perlu dilakukan upaya pencatatan pemikiran-pemikiaran tersebut dalam bentuk tulisan yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi dan dapat meminimalisasi terjadinya misinformasi.

Kita bisa bayangkan bagaimana seandainya kedua Khalifah di atas tidak memiliki ide kodifikasi al-Qur’an dan Hadits, sudah barang tentu umat Islam sepeninggal mereka berdua tidak mampu memahami Islam dari sumbernya yang  utama. Beragam ilmu agama yang berpijak dari kedua kitab tersebut, seperti fiqih, ulumul qu’an, ulumul hadits, tafsir, faraid, dll dengan sendirinya tidak akan pernah terlahir di tengah-tengah umat Islam. Dalam kontek warisan karya tulis ini pula, bagaimana kita dapat mengetahui pemikiran Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Imam Asy’ari, atau Imam-imam yang lain seandainya karya mereka tidak diabadikan melalui goresan tinta dalam sebuah kertas.

Belajar dari spirit di atas, sudah waktunya pesantren melakukan tindakan serupa dengan menuangkan pemikiran dan keilmuan pesantren yang berhaluan ahlussunah wal jama’ah (aswaja) dalam sebuah karya tulis, baik berupa buku atau yang lain. Sebab, hal ini dapat dijadikan media pelestarian ajaran aswaja di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, tulisan-tulisan yang terlahir dari rahim pesantren setidaknya bisa menjadi alat untuk menangkis propanganda yang ditujukan untuk merusak eksistensi ajaran aswaja yang belakangan semakin gencar dilakukan, baik melalui buku, majalah, internet, dll.

Sebagai gambaran, berikut ini beberapa contoh buku yang ditujukan untuk menghantam ajaran dan tradisi-tradisi pesantren.

  1. “Mantan Kyai NU Bongkar Habis Kasidah Syirik yang Bersarang di Lingkungannya” ditulis oleh H. Mahrus Ali.
  2. “Mantan Kyai NU Meluruskan Ritual-ritual Kyai Ahli Bid’ah yang Dianggap Sunnah” ditulis oleh H. Mahrus Ali.
  3. “Amaliyah Sesat di Bulan Ramadhan” ditulis oleh H. Mahrus Ali.
  4. “MWC NU Membedah Kitab Tauhid Kyai Ahli Bid’ah” ditulis oleh H. Mahrus Ali.
  5. “Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Mauludan” ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz.

Dilihat dari redaksional judul buku, terlihat bahwa kata-kata yang dipilih cenderung provokatif, menghakimi, dan menyudutkan pihak pesantren dan ajarannya khusunya dan NU pada umumnya.  Dari kacamata marketing, pemilihan judul-judul di atas memang sah-sah saja, agar pembaca tertarik untuk membaca dan akhirnya membeli buku. akan tetapi dalam konteks pencarian kebenaran beragama dan pengembangan kehidupan beragama yang saling menghargai antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, semestinya yang demikian sedapat mungkin bisa dihindari.

Menyimak kondisi yang demikian, apa yang harus dilakukan oleh pesantren? Menurut hemat kami, pesantren tidak cukup hanya memberikan counter attack (serangan balik) melalui ceramah dan pengajian, sebab cara ini hanya efektif untuk kalangan terbatas. Pesantren tidak bisa tidak harus melakukan cara yang relatif sama dengan pihak “pengganggu” pesantren. Apabila mereka menggunakan buku sebagai media menyerang pesantren, maka pesantren harus menangkisnya dengan menulis buku, demikian juga bila mereka menggunakan internet, pesantren harus menyampaikan opininya melalui internet pula, dan begitu seterusnya. Dengan cara seperti ini akan terjadi balancing pemikiran yang dapat dirasakan oleh umat Islam yang pada gilirannya mereka dapat memilih manakah yang paling sesuai dengan kepribadian-nya masing-masing. Cara seperti ini, sebenarnya telah pernah dicontoh-kan oleh dua ulama besar Islam masa lalu, yakni Imam Ghazali dan Ibnu Arabi. Ketika keduanya terlibat dalam “pertarungan” pemikiran memperdebatkan eksistensi filsafat. Imam al-Ghazali mengkitik filsafat dengan menulis buku Tahafutul Falasifah, selanjutnya Ibnu Arabi melakukan counter terhadap buku Imam al-Ghazali dengan menulis buku yang berjudul Tahafutut Tahafut.

Seiring dengan menjamurnya media penerbitan buku, baik yang digagas oleh pesantren sendiri atau dari penerbit di luar pesantren, kesempatan untuk menuang-kan segala yang berbau pesantren, termasuk pemikiran mengenai aswaja, semakin terbuka lebar. Banyak penerbit umum yang belakangan mempunyai perhatian mengenai dunia kepesantrenan, sebut saja misalnya Penerbit Pustaka Pesantren (Yogja), Khalista (Surabaya), LKiS (Yogja), Pustaka Sidogiri (Pasuruan), Mizan (Bandung) dll. Jika semua telah terbentang, sekarang kembali kepada kita para santri, apakah akan menangkap peluang ini ataukah tidak. Jika tidak, maka jangan hanya mengeluh jika ada pihak-pihak di luar pesantren yang menulis tentang pesantren tidak sesuai dengan realitas yang ada.

Disamping pertimbangan untuk membentengi ajaran aswaja seperti diuraikan di atas, secara umum sebenarnya menulis memiliki banyak manfaat. Hernowo[5], seorang penulis kenamaan mencoba meringkas manfaat menulis dalam 30 point. Berikut ini butir-butir manfaat tersebut: (1) Menata pikiran; (2) Merumuskan keadaan diri; (3) Mengikat dan mengonstruksi gagasan; (4) Mengefektifkan sugesti positif; (5) Menajamkan pemahaman; (6) Mengasah daya ingat; (7) Mengenal detail diri; (8) Mengurai dan mengalirkan diri; (9) Membuang kotoran diri; (10) Merekam momen-momen mengesankan; (11) Meninggalkan “jejak” pikiran yang sangat jelas; (12) Menyembuhkan diri; (13) Memfasihkan komunikasi intra dan interpersonal; (14) Memperkaya diri dengan lautan kata; (15) Menunjukkan dengan kukuh bahwa diri itu unik; (16) Membagikan pengalaman batin; (17) Menggali diri paling dalam; (18) Memotivasi diri dengan alasan yang kukuh dan jelas; (19) Membantu bekerjanya imajinasi; (20) Memetakan pikiran; (21) Melatih diri menepati janji; (22) Mendidik diri dalam kejujuran; (23) Mengoneksikan sel-sel otak secara sangat efektif; (24) Menyalahkan pikiran; (25) Mengukur pertumbuhan ruhani; (26) Menyebarkan pengetahuan; (27) Mewariskan pengalaman berharga; (28) Mendorong menemuan hal-hal baru; (29) Mengefisienkan pengelolaan diri; dan (30) Menjadikan diri bermakna.

Dari Mana Harus Memulai?

Bagi penulis pemula, persoalan besar yang selalu dihadapi adalah bagaimana harus mulai menulis? Penantian munculnya kata-kata pun seringkali dirasakan ketika berhadapan dengan layar monitor komputer atau selembar kertas kosong. Apa ya yang harus saya tulis? Kalaupun sudah mulai menemukan kata-kata, pertanyaan lanjutan kerap kali muncul, Jangan-jangan yang saya tulis tidak layak dibaca orang? Apakah tulisan ini memang pantas saya tulis? Rasanya kok tidak nyambung antara paragraf ini dengan paragraf berikutnya? Begitulah kira-kira sederet pertanyaan yang sering dihadapi terutama oleh para penulis pemula.

Oleh karena itu, beberapa langkah berikut ini semoga bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk memberanikan diri dalam memulai menulis.

  1. Mantapkan dalam pikiran Anda bahwa menulis adalah bagian untuk memberikan manfaat kepada orang lain;
  2. Tumbuhkan keyakinan bahwa Anda bisa menulis;
  3. Pilih tema tulisan yang Anda sukai dan sekiranya bisa Anda lakukan, terlebih yang mempunyai tingkat aktualisasi tinggi.
  4. Kumpulkan bahan-bahan atau referensi yang berhubungan dengan tema tulisan;
  5. Susunlah outline (rancangan umum) yang menggambarkan keseluruhan tema;
  6. Mulailah menulis dari point-point yang Anda kuasai. Jangan dipaksakan harus berurutan sesuai dengan outline yang telah dibuat sebelumnya;
  7. Jika Anda mengalami kesulitan, dianjurkan Anda membuat peta pemikiran;
  8. Tuangkan apa saja yang ada dilam pikiran Anda dan jangan takut salah; meskipun hal itu tidak ada kesesuain antara yang satu dengan yang lain;
  9. Setelah semua telah dituangkan, cobalah rangkaikan satu tulisan dengan yang lain menjadi susunan kalimat dan paragraf yang baik;
  10. Apabila ditengah-tengah proses penulisan Anda harus mengerjakan tugas yang lain, sementara dalam pikiran Anda masih mempunyai ide yang akan ditulis, maka tandailah hal-hal tersebut dalam bentuk point-point;
  11. Berhentilah sejenak ketika Anda mendapati kejenuhan;
  12. Jangan segan berdiskusi dengan teman, guru, atau orang lain yang Anda anggap mampu untuk memberikan masukan terhadap tulisan Anda.

Apabila langkah-langkah diatas telah dapat dilakukan dengan baik, yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh penulis adalah hal-hal sebagai berikut:

  1. Tumbuhkan pemahaman bahwa Anda menulis tak lain adalah upaya menyampaikan apa yang ada dalam benak pikiran Anda kepada orang lain, sehingga posisi pembaca harus kita perhatikan;
  2. Gaya bahasa yang Anda sampaikan sedapat mungkin menyesuaikan dengan bahasa pembaca sesuai dengan segmentasinya tulisan yang kita inginkan;
  3. Mengunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia yang baku dan benar;
  4. Sekiranya sebuah tulisan ingin dicetak menjadi buku dan diedarkan ke pasar, maka kemasan buku sangat perlu dipertimbangkan, demikian juga cara penerbitannya, apakah menggunakan model swadana (biaya sendiri) atau didanai oleh pihak penerbit.

Langkah-langkah sebagaimana diuraikan diatas adalah bagian dari teori yang perlu diketahui para penulis pemula. Namun perlu difahami bahwa seberapa bagusnya sebuah teori tetaplah menjadi teori manakala tidak dicoba aplikasinya. Ibarat orang belajar teori berenang, jika tidak dipraktekkan selamanya dia tiak akan bisa berenang. Karena itu, keberanian kita mencoba adalah mutlak adanya, kalaupun ada kesalahan itu adalah hal yang wajar dalam sebuah proses pembelajaran.

Mari sejenak kita simak pernyataan Anders Ericson, seorang pakar komuni-kasi berikut ini:

“Bakat itu penting. Anda atau saya bisa saja berlatih menendang bola setiap hari, tetapi tidak akan pernah menjadi pemain sepak bola yang lebih baik dari Ronaldo atau Ronaldinho. Akan tetapi bila Ronaldo dan Ronaldinho tidak pernah latihan setiap hari, mereka pasti tetap bermain di pantai-pantai Rio De Jeneiro dan tinggal di kawasan kumuh”.[6]

Akhirnya semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi kita semua untuk berani menuangkan gagasan yang dimiliki dalam sebuah karya tulis. Amien.

 

Daftar Bacaan

Bobbi DePorter. Quantum Writer Menulis Dengan Mudah, Fun, dan Hasil Memuaskan. Bandung: Kaifa, 2009.

Hernowo. Mengikat Makna Sehari-hari; Mengubah Beban Membaca dan Menulis Menjadi Kegiatan yang Ringan-Mengasyikkan. Bandung: MLC, 2005.

Muhammad Ibn Alwi al-Maliki,. Al Manhal al-Lathif Fi Ushul al-Hadits al-Syarif. Makkah: 1990.

Muhammad Musrofi. 5 Langkah Melahirkan Mahakarya; Melejitkan Potensi Diri dengan Membiasakan Berkarya. Jakarta: Hikmah, 2007.

http://www.nu.org.id

 

 

 

 


[1] Pengajar di JSA Fakultas Sastra UM (Universitas Malang) dan pengajar di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang

[2] Mengingat bahwa tidak semua pesantren yang berafiliasi kepada NU, maka untuk memudahkan penyebutan maka pesantren dalam tulisan ini adalah pesantren yang terabung ke dalam RMI atau setidaknya secara emosional mempunyai ikatan dengan NU.

[4] Muhammad Ibn Alwi al-Maliki. Al Manhal al-Lathif Fi Ushul al-Hadits al-Syarif. (Makkah; 1990).

[5] Hernowo. Mengikat Makna Sehari-hari; Mengubah Beban Membaca dan Menulis Menjadi Kegiatan yang Ringan-Mengasyikkan. (Bandung, MLC:2005)

[6] Dikutip dari Muhammad Musrofi. 5 Langkah Melahirkan Mahakarya; Melejitkan Potensi Diri dengan Membiasakan Berkarya, (Jakarta, Hikmah:2007)

Pos ini dipublikasikan di Aswaja dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s