Haruskah Tradisi di Berangus???

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus utusannya memberi petunjuk dan agama yang haq. Rahmat dan keselamatan terlimpahkan kepada baginda Muhammad yang di utus untuk menyempurnakan ahlaq semoga pula kepada keluarga dan sahabat juga pengikut mereka yang penuh dengan ahlaq.
Sebagaimana hadits yang sering kita dengar, Rosulullah bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Saya di utus hanya untuk menyempurnakan ahlaq”
Dari hadits ini berasumsi bahwa sebelum Nabi Muhammad sudah ada ahlaq walau tidak sempurna, yaitu, budaya dan tradisi orang arab. Jadi, agama haq yang di bawa muhammad bukan merubah budaya dan tradisi. Tapi, menyempurnakan budaya dan tradisi yang belum sempurna. Hal ini nampak sekali dari sabda beliau:
اتق الله حيثما كنت واتبع السنة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن
“Taqwalah kepada Allah dan tutuplah perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik maka akan menghilangkan kejelekan tersebut dan berperilakulah pada manusia dengan perlakuan yang baik”.
Baginda Ali bib Abi tholib seorang sahabat Nabi yang pernah di tanya tentang pengertian prilaku yang baik dalam hadits:
وخالق الناس بخلق حسن
Beliau menjawab

Selalu adabtasi dengan budaya dan tradisi dimana kita berdomisili selama tidak bertentangan dengan syar’i atau maksiat sebagaimana keterangan dalam

Dari sinio jelas bahwa agama datang bukan merubah budaya dan tradisi melainkan selalu menjaga budaya dan tradisi selama masih mengandung nilai-nilai agama. Hal ini nampak sekali kalau kita melihat dalam asbab nuzul ayat-ayat al-quran dan al-Hadits yang menjelaskan hukum dengan mempertimbangkan budaya dan tradisi di antaranya adalah:
a. di turunkannya ayat dalam Surat al-Baqarah :
فإذا قضيتم مناسككم فاذكروا الله كذكركم آباءكم أو أشد ذكرا
فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق (200)
ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار (201) * أولئك لهم نصيب مما كسبواوالله سريع الحساب (202)
Artinya; apabila kamu telah menyelesaaikan hajimu maka berdzikirlah dengan menyebut Allah. Sebagaimana kamu menyebut nenek-nenek moyangmu atau berdzikirlah lebih banyak dari itu, maka di antara manusia ada yang berdo’a ya tuhan kami berilah kebaikan di dunia dan tidak ada kebaikan yang menyenangkan di akhirat. (200) dan di antara mereka ada yang berdo’a ya tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkan kami dari siksaan api neraka (201) mereka itulah orang yang mendapatkan kebahagian di akhirat dan Allah sangat cepat menghitungnya (202).

Dalam ayat di atas terdapat perintah Allah untuk memperbanyak dzikir di tanah Mina ketika pari purna melaksanakan ibadah haji dan sekaligus Allah menyebutkan tradisi manusia yang berbeda-beda ada yang hanya ingin berbahagia di dunia. Hal ini di sempurnakan Allah dengan firman-Nya; وما له في الآخرة من خلاق. Mereka di akhirat tidak mendapatkan kebahagiaan dan ada yang tradisi mereka menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat dan dijelaskan Allah dengan أولئك لهم نصيب مما كسبوا sebab di turunkan ayat ini sebagai berikut;
قال مجاهد كان أهل الجاهلية إذا اجتمعوا في الموسم ذكروا فعل آبائهم في الجاهلية و أيامهم و أنسابهم و تفاخروا فأنزل الله تعالى فاذكروا الله كذكركم آباءكم أو أشد ذكرا
قال وقال الحسن يعني البصري كانت العرب إذا حدثوا أو تكلموا يقولون وأبيك أنهم ليفعلون كذا فأنزل الله تعالى هذه الآية اسباب النزول للإمام ابن الحسن من أحمد الواحدى النيسابوري المتوفى سنة 468

Dari asbab nuzul ini sangat jelas sekali bahwa tradisi orang jahiliyah telah berkumpul di muassim (Mina) dengan menyebut perbuatan ayahnya (nenek moyangnya) kemudian perkumpulan tersebut tidaklah dirubah oleh agama islam yang sudah menjadi tradisi, artinya masih telah di abadikan hanya nuansanya yang tidak islami tersebut yakni menyebut nenek moyang di ganti dengan nuansa islami yaitu dzikir kepada Allah.
Kedua; sai yang p[ada awalnya merupakan tradisi jahiliyah dimana kala itu gunung shofa dan mina ada berhala yang namanya asaf (أساف) dan nailah (نائلة). Jahiliyyah ketika sa’i menyentuh kedua berhala tersebut. Ketika islam datang dan berhala tersebut di hancurkan maka orang-orang islam enggan sa’i di antara gunung tersebut. Tapi, justru Allah melegalkan hal ini nampak pada asbab nuzul dalam firman Allah;
إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم (البقرة: 158)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s