Tasawwuf Dan Ruang Lingkupnya

Tasawwuf  Dan Ruang Lingkupnya
oleh: Muh Anas

Iman, Islam dan ihsan adalah trilogi ad-dîn yang membentuk tiga dimensi keagamaan yang meliputi Aqidah sebagai landasan keimanan, syarî’ah sebagai realitas hukum, tasawwuf dan tharîqah sebagai jembatan menuju haqîqah yang merupakan kebenaran esensial. ketiganya adalah sisi tak terpisahkan dari keutuhan risalah yang dibawa  Nabi Muhammad saw.

Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) IslamYaitu suatu doktrin yang berorientasi pada nilai kebijakan dan akhlak yang merupakan perwujudan dari dimensi ihsan (estetika) yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.

Pada awalnya fenomena tasawwuf ini muncul dalam bentuk ibadah dan kezuhudan, mereka dikenal sebagai “Aabid da Zahid” mereka menjauhkan diri dari orientasi materi dan kemewahan duniawi, mereka lebih banyak berkonsentrasi pada masalah akhirat, meneguhi ketaatan dan upaya pendekatan diri pada Alloh swt.

Dalam pembahasan nanti, makalah ini  akan memberikan paparan mengenai beberapa definisi dari pada tasawwuf, ruang lingkupnya,hubunganya dengan ilmu yang lain dan manfa’at mempelajarinya

Definisi Tasawwuf dan Asal-Usulnya

Dalam mengajukan teori tentang pengertian tasawuf, baik secara bahasa maupun secara istilah, para ahli ternyata berbeda pendapat. Secara etimologi, Istilah sufisme (tashowwuf) disinyalir berasal dari kata Arab ash-shofâ’ yang berarti bening atau jernih sebagai simbol langkah kaum sufi yang menempuh jalan penyucian nurani dan jiwa, atau berasal dari ash-shuffah yang dinisbatkan pada Ahli Shuffah (serambi), yaitu sekitar 400 sahabat Muhâjirîn yang fakir dan tidak memiliki tempat tinggal dan sanak keluarga di masa Nabi yang menetap dan beribadah di masjid Nabawy di Madinah,  atau berasal dari kata ash-shaff (barisan) yang seolah-olah hati mereka berada di barisan terdepan dalam kehadirannya di hadapan Allah. Namun pendekatan isytiqâqy (derivasi) ash-shûfiy (sufi) pada ketiga kata tersebut, menurut al-Qusyairy dinilai tidak tepat secara harfiah Sebab kata ash-shûfiy bukanlah bentuk fâ’il dari ash-shofâ’, ash-shuffah(serambi) atau ash-shaff (barisan) meskipun memiliki kebenaran secara makna, Bahkan menurutnya, sufisme juga tidak berasal dari akar kata ash-shûf (wol), sebab pakaian tersebut bukan performance asli kaum sufi. Jadi menurut al-Qusyairy, sebutan ash-shûfiy diberikan tidak  lebih hanya sebagai gelar (laqab).  Namun menurut Ibn Khaldûn, kendati ash-shûf bukan pakaian khusus para kaum sufi, namun karena keidentikan tradisi mereka yang menggunakan pakaian dari wol sebagai ekspresi kezuhudannya, istilah tashowwuf lebih dekat berasal dari akar kata ash-shûf. Abu Muhammad bin Said al-hafid bertanya pada Walid bin Qosim”kata As Sufi itu dinisbatkan pada apa?”beliau menjawab kata Sufi itu pada zaman jahiliyyah dinisbatkan pada kaum Sufah yang masih berpegang teguh pada agama nabi Ibrohim, merekamengkonsentrasikan diri pada Alloh swt karna itu orang yang menyerupai mereka juga bias disebut Sufiyah.Namun Massignoon dan Mustofa Abdul al-Rozik dalam kitabnya”al-Tasawwuf”mengatakan bahwa kata tasowwuf adalah masdar dari fiil humasi terderivasi dari kata Sowwafa yang punya arti memakai wol.

Adapun sufisme secara terminologis, tampaknya terlalu naïf tatanan keruhanian yang maha samar sekaligus konkret ini untuk dibatasi dengan kosa-kata.karna itu muncullah beberapa definisi subjektif dari beberapa ulama’ berdasarkan pengetahuan, pengalaman, kondisi ruhani (hâl) dan intuisi (dzauq)-nya masing-masing, Muhammad al-Jurairy mengatakan; tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak tercela. aL-Junaid mengatakan; tasawuf adalah perang tanpa kompromi, dan para sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka. Kaum sufi seperti bumi, segala kotoran dilemparkan kepadanya, namun tidak akan tumbuh (keluar) darinya selain kebaikan. Ia juga diinjak oleh orang shaleh sekaligus para pendosa. Kaum sufi bagaikan mendung yang memayungi segala yang ada, seperti hujan yang menetesi segalanya. Seorang sufi yang menaruh kepedulian dengan penampilan lahiriahnya, ketahuilah sesungguhnya batinnya telah rusak. Sahl bin Abdullâh aL-Tustary mengatakan; sufi adalah seorang yang memandang darah dan hartanya halal tumpah dengan gratis. Asy-Syibly mengatakan; para sufi adalah anak-anak di pangkuan aL-Haqq. Abû Ya’kûb aL-Mazâbily mengatakan; tasawuf adalah keadaan di mana seluruh atribut kemanusiaan terhapus.Imam al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumiddin mengatakan:

أما التصوف فهو عبارة عن تجرد القلب للّه تعالى واستحقار ما سوى اللّه

‘Tasawwuf adalah sebuah ungkapan dari mengkosongkan hati hanya untuk Alloh dan menganggap terhadap selain Alloh”.

  Definisi-definisi tersebut tidak menjelaskan tasawuf yang sebenarnya, melainkan hanya sebatas petunjuk. Tasawuf tidak dapat dipahami dengan persepsi atau filosofi apapun. Hanya kearifan hati yang sanggup memahami dimensinya karena membutuhkan pengalaman ruhani yang tidak bergantung pada metode-metode indera ataupun pemikiran. Namun pada dasarnya, tasawuf adalah sebuah manhaj nurani yang dibangun di atas kebijakan-kebijakan yang hanya bisa dilewati bukan melalui teori-teori semata melainkan ilmu dan amal dengan melepaskan (takhollî) baju kenistaan dan mengenakan (tahallî) jubah keagungan, sehingga Allah hadir (tajallî) dalam setiap gerak-gerik dan perilakunya, dan inilah manifestasi konkret dari ihsan dalam sabda Rasûlullâh saw.;

“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia melihatmu”.

Pada masa awal Islam, sufisme tidak dipandang sebagai dimensi batin (esoteris) dari ajaran Islam seperti yang berlangsung pada masa belakangan, melainkan ia dipandang sebagai Islam itu sendiri. Bahkan, dalam rangka meremehkan kebangkitan aspirasi manusia pasca fase pertama perkembangan Islam, kalangan sufi mengatakan; “pada awalnya, sufisme merupakan sebuah realitas tanpa nama, sedang sekarang ini, merupakan sebuah nama tanpa realitas”.

Jika ditilik dari sejarahnya, kelahiran tasawuf menjadi sisi esoteris ajaran Islam secara independen, lebih karena sugesti kondisi sosial pada kurun kedua dan setelahnya, di mana arah peradaban manusia nyaris menjadi materialistik dan gersang dari keshalehan spiritual..

Dengan demikian, lahirlah tasawuf yang mengisi ‘zona kosong’ yang dicampakkan kalangan fuqohâ dan mutakallimîn guna menyelamatkan mereka yang tenggelam dalam kemegahan duniawi. Kelahiran tasawuf yang menjadi oposisi peradaban materialistis itu, tentu kehadirannya memberikan perhatian serius yang berorientasi pada persoalan batini tanpa melupakan adab-adab formal syara’. Sebab tidak ada tasawuf tanpa fiqh, karena hukum-hukum dhohir tidak bisa dimengerti tanpa fiqh, dan tidak ada fiqh tanpa tasawuf, sebab amaliah hanya berarti bila dengan kebenaran tawajjuh, serta fiqh dan tasawuf tidak akan ada tanpa iman, sebab keduanya batal tanpa dibangun di atas keimanan.  Oleh karena itulah Imam Mâlik mengatakan;

من تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ومن تصوف ولم يتفقهفقد تزندق ومن جمع بينهما فقد تحقق

Barang siap menjalani tasawuf tanpa fiqh, maka dia telah zindiq, barang siapa memegang fiqh tanpa tasawuf, maka dia telah fasiq, dan barang siapa menyatukan keduanya, maka dia telah menemukan kebenaran”.

Imam as-Syafi’i mengatakan dalam sebuah syi’ir:

فقيهًا وصوفيًّا فكن ليس واحداً   ***  فإني وحـق الله إياك أنصـــح

فذلك قاسٍ لم يذق قلــبه تقى  *** وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح

Dalam syi’ir diatas Imam as-Syafi’I memberikan nasehat kepada kita agar menjadi Faqih dan sufi, karna seseorang yang ahli feqih saja tanpa dibarengi tasawwuf maka hatinya tidak akan pernah merasakan ketaqwaan pada Alloh swt, sementara orang ahli tasawwuf tanpa dibarengi ilmu fiqih adalah orang yang bodoh yang tidak layak dan patut menghadap Alloh swt.

Maka jelaslah, bahwa kelahiran tasawuf adalah mengembalikan dimensi batini (ihsan) yang sempat hilang dari ranah keagamaan masyarakat Islam.

Dunia tasawuf mengalami pasang surut yang luar biasa dalam historis Islam. Secara empiris, latar belakang yang meruntuhkan supremasi tasawuf dalam ilmu-ilmu Islam di antaranya adalah intelektualisme-skriptural yang stagnan dan faktor politik yang memanfaatkan ajaran agama dan golongan-golongan keagamaan untuk kepentingan kekuasaan. Sedangkan yang membangkitkan kembali supremasi tasawuf dalam dunia Islam antara lain, ketika doktrin-doktrin formalitas tekstual gagal dalam menghayati spirit paling agung dalam aL-Qur’ân dan As-Sunnah, mereka menengok kembali khazanah tradisional generasi awal untuk menggali nilai-nilai etik-estetik bagi pencerahan spiritualisme kontemporer. Dari sinilah kemudian tampil sejumlah tokoh sufi yang merumuskan doktrin-doktrin sufisme yang menjadi katalisator kemajuan dunia tasawuf sekaligus yang memunculkan paham-paham kontroversial, seperti Biyazid aL-Bashthâmy dengan doktrin fanâ’nya, aL-Junaid aL-Baghdâdy dengan paham ma’rifat ittihâdnya, aL-Hallaj dengan paham hulûlnya, Ibn Araby dengan wahdatul wujudnya, Siti Jenar dengan manunggaling kawula-Gustinya, Hasan aL-Bashry dengan raja’ khaufnya dan Rabî’ah aL-Adawiyyah dengan mahabbahnya.

HUKUM MEMPELAJARI TASAWWUF

Al-Imam al-Arif Ahmad  bin Ajiibah al-Hasani dalam kitab Iqoodu al-Himam menyatakan bahwa mempelajari ilmu tasawwuf menurut imam al-Ghozali adalah fardu ain karna setiap manusia tidak terlepas dari aib dan penyakit hati, bahkan al-Imam al-Syadzili berkata:

(من لم يتغلغل في علمنا هذا – أي التصوف – مات مصرا علىالكبائر وهو لا يشعر).

” Barang siapa tidak belajar mempelajari ilmu tasawwuf  maka ia mati dalam kondisi menetapi dosa besar sementara ia tidak merasa sama sekali”.

SUMBER-SUMBER TASAWUF

Adakelompok yg berpendapat bahwa tasawuf berakar dari luar ajaran Islam seperti  Majusi atau Hindu, Kristen atau Yunani, Atau campuran dari agama-agama tersebut. Teori-teori ini mengandung banyak kelemahan serta bertentangan dengan realitas sejarah, yang benar tasawwuf bersumber dari ajaran Islam,.karena, dasar-dasar akidah dan perilaku tasawuf bersumber dari teks-teks Alqur`an dan As-Sunnah, dan kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau. Para Zahid menyandarkan kegiatan zuhudnya dari sumber-sumber Islam tersebut.

Al-Quran:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui“ (Qs Al-Ankabut 64)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (20) سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ(21)

20.Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu

21.Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar(Qs. Al-Hadid:20-21)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Qs.Ali-Imran:190-19).
فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آَنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (130) وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (131) وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (132)

 130. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,

131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

132.Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa(Qs.Thaha:131-132).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Qs. Al-Hujurat:13)

Dalam banyak ayatnya, Al-Qur`an memotifasi untuk hidup zuhud dan mewaspadai sikap cinta dunia dan kemerlapannya. Orang yg membaca Al-Qur`an secara jeli akan menjumpai ayat-ayat yg membuka pintu zikir, introspeksi diri, ibadah dan bangun malam bagi para ahli ibadah.

Al-Qur`an juga berbicara tentang muraqabah, taubat, takut (khauf) pada Allah, harapan (raja`) pada Allah, syukur, tawakal, serta sabar. Al-Qur`an penuh dengan anjuran untuk mengamalkan sifat terpuji. Maka karena itu, para sufi berupaya memperindah diri dengan sifat-sifat terpuji.

Hadits Nabi:

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Diriwayatkan  dari Abi Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:”Allah Azza Wajalla berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hambaKu dan Aku selalu bersamanya tatkala ia mengingatKu. Jika hambaKu mengingatKu dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Dan, jika ia menyebutKu dihadapan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di hadapan orang banyak yg lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta maka aku akan mendekat padanya satu depa. Jika dia  padaKu dengan berjalan, maka Aku akan datang padanya dengan berlari”. (H.R. Muslim)

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ

Diriwayatkan dari Sahl bin Said al-Saidiy Seorang laki-laki menghadap Rosululloh dan ia berkata wahai Rosululloh tunjukkan padaku sebuah amal yang bila kukerjakan maka aku dicintai Alloh dan manusia, Rosululloh bersabda“Bersikap zuhudlah pada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, Bersikap zuhudlah dari segala apa yg dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu!.” (H.R. Ibnu Majah)

قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Malaikat Jibril bertanya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Ihsan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya; dan jika engkau tidak melihatNya. Maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. AL-Bukhari)

Faedah mempelajari Tasawwuf

  • Membuat hidup lebih beretika karna tasawwuf selalu terkai dengan tatakrama sebagaimana di ungkapkan oleh Abu hafs :

التصوف كله آداب لكل وقت آداب ولكل حال آداب ولكل مقام آداب فمن لزم الأدب بلغ مبلغ الرجال ومن حرم الأدب فهو بعيد من حيث يظن القرب مردود من حيث يظن القبول

  • Terbebasnya hati dari sifat-sifat yang buruk
  • Terhiasinya hati dengan sifat-sifat terpuji
  • Bisa meneladani tokoh-tokoh sufi dalam bersikap,
  • Terhindar dari menuhankan hawa nafsu dan syaitan.
  • Ma’rifat billah

Pos ini dipublikasikan di artikel tasawuf dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s