PEMIKIRAN KH. HASYIM ASY’ARI

SEPUTAR PEMIKIRAN

KH. HASYIM ASY’ARI

 

BIOGRAFI SINGKAT[1]

            Hadhratussyaikh, itulah panggilan yang melekat pada diri KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, nama lengkapnya. Ia lahir di Nggedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada Selasa Kliwon, 24 Dzulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan 14 Pebruari 1871 M. Ia keturunan Jaka Tingkir, seorang Raja Pajang pertama yang mempunyai gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya, tahun 1568 M.

            KH. Hasyim Asy’ari, mendapat didikan dari keluarganya sampai umur 14 tahun, kemudian ia singgah dari pesantren ke pesantren. Di antaranya, Pesantren Wonokoyo, Probolinggo, Demangan (Bangkalan), Langitan (Tuban), Trenggilis (Semarang). Kemudian pada tahun 1891 M, ia pindah ke pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, yang akhirnya ia dijadikan menantu oleh gurunya (KH. Ya’kub), di pesantren tersebut.

            Karir pendidikannya, kemudian dilanjutkan di Makkah Al-Mukarramah. Ia berguru kepada Syaikh Mahfudz Termas,[2] Syaikh Ahmad Khatib Minagkabau,[3] seorang tokoh sufi terkenal yang tidak begitu menyukai tarikat yang memakai cara-cara tertentu melalui seorang guru, karena khawatir terjadi bid’ah, dan syaikh nawawi Banten, yang karya tulisnya sangat banyak dan tersebar luas di dunia pesantren di Indonesia.

            Di samping itu KH. Hasyim Asy’ari juga pernah berguru kepada: Syaikh Ahmad Amin, Sayyid Sulthan bin Hasyim, Syaikh Sa’id Yaman, Sayyid Abbas Al Maliki, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh besar ulama Hijaz yang menjadi gurunya.

            Kemudian sepulang dari tanah suci, KH. Hasyim Asy’ari menekuni bidang pendidikan, yang kemudian lahir sebuah pesantren yang ia dirikan di daerah Tebuireng, Jombang, pada tahun 1899 M, dengan murid pertama sebanyak 28 orang. Lambat laun pesantren yang diasuhnya terus berkembang. Dan nama KH. Hasyim Asy’aripun menjadi terkenal, seiring dengan pesantrennya yang berkembang pesat. Di samping pula perjuangan KH. Hasyim Asy’ari dalam membela tanah air dan sikap kurang manisnya terhadap penjajah Belanda pada saat itu, membuat nama Kiai Hasyim semakin disegani.

            Singkat cerita, pada tanggal 31 Januari 1926 M di Surabaya, karena suasana perkembangan politik Islam secara makro tidak menguntungkan posisi kalangan Islam yang “berpaham” madzhab. Suasana politik di Timur Tengah mengubah paham keagamaan dengan posisi gerakan Wahabi berada di atas angin. Sedangkan perkembangan di dalam negeri, keberadaan para ulama di pesantren yang memang secara teguh mempertahankan kehidupan agama dengan pola madzhab, kurang menguntungkan.

            Harus diakui, dalam pola sehari-hari sering timbul pertentangan pendapat, terutama yang menyangkut masalah khilafiyah antara NU dan Muhammadiyah. Pada saat kongres (IV dan V) Umat Islam yang diselenggarakan di Yogyakarta, pada 21 sampai 27 Agustus 1925, dan Bandung, pada 6 Februari 1926, untuk mencapai input dalam menghadapi kongres Islam di Makkah aspirasi kalangan pesanteren sama sekali tidak tertampung.

            Pada kalangan “modernis” kala itu memang lebih besar. Usul kalangan ulama dari pesantren yang mengharapkan agar tradisi bermadzhab tetap diberi kebebasan, tidak masuk dalam agenda kongres. Kalangan Ulama pesantren juga mengusulkan agar beberapa makam penting, mulai makam Rasul sampai makam para Sahabat dan tempat bersejarah lainnya, dapat dipelihara dengan baik.

            Karena materi usulan yang disampaikan K.H. Abdul Wahab Chasbullah itu tidak masuk dalam agenda konggres, akhirnya, atas prakarsa kiai Wahab Chasbullah, para ulama pesantren mendirikan “Komite Hijaz” yang bertujuan menyampaikan aspirasi ulama pesantren kepada penguasa Arab Saudi. Dalam rapat di Surabaya yang dihadiri para tokoh generasi awal NU, diputuskan untuk mengutus K.H. Bisri Sansuri (Jombang) dan K.H. Adnan (Kudus) ke Arab Saudi.

            Tapi, karena waktu pelaksanaan ibadah haji telah habis sehingga tidak ada kapal yang berangkat, keberangkatan utusan ini ditunda. Di kemudian hari, beranghkatlah Syaikh Ahmad Ghanaim Al-Misri ke Makkah untuk menyampaikan keputusan dan rekomendasi Rapat Komite Hijaz kepada Raja Arab Saudi. Usulan itu berhasil dan diterima baik oleh penguasa Arab Saudi. Ibnu Saud bahkan memberikan jaminan bahwa ia akan berusaha memperbaiki pelayanan ibadah haji sejauh perbaikan itu tidak melanggar aturan Islam (versi pemahaman Wahabi).

            Misi yang diemban komite Hijaz berhasil. Kemudian mereka mengadakan rapat lagi. Agendanya, antara lain, membubarkan komite Hijaz. Tapi rencana itu dicegah oleh Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari. Beliau menghendaki agar komite itu diteruskan menjadi organisasi kebangkitan Ulama atau Nahdlatul Ulama. Apalagi ketika itu beberapa kalangan muda juga sedang merintis pembentukan sebuah organisasi keagamaan yang misinya mengembangkan ajaran islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. Maka sejak itu, tepatnya di sebuah rumah di jalan Kebondalem Surabaya, dibentuklan Nahdlatul Ulama. Untuk menentukan anggaran dasarnya, para kiai meminta bantuan Mas Sugeng (sekretaris Mahkamah Tinggi atau Buchroeh). Sedangkan K.H. Ridlwan, Surabaya, yang dianggap mempunyai darah seniman, kebagian membuat lambang NU.

PEMIKIRAN KH. HASYIM ASY’ARI

            Bagaimana corak pemikiran KH. Hasyim Asy’ari, bisa disimak lewat pesan-pesannya yang disampaikan dalam berbagai forum. Di antaranya adalah pidato iftitah Muktamar NU dan berbagai selebaran yang dicetak oleh pesantren Tebuireng. Pemikiran keagamaannya, terutama dalam bidang tasawuf dan fiqih dituangkan dalam beberapa kitab yang kini banyak menjadi koleksi pesantren dan lembaga pendidikan di Timur Tengah.

            Sebagai tokoh intelektual, KH. Hasyim Asy’ari banyak mempersembahkan karya tulisnya untuk kalangan umat Islam. Antara lain kitab yang berjudul: Al-Risalah Ahlusunnah Waljamaah, Al-Tanbihat al-wajihat li man Yashna’ al-Maulid al-Munkarat, Al-Tibyan fi Nahyi an al-Muqatha’ah al-Arham wal Aqrab wal-Akhwan, Al-Nur al-Mubin fi Mahabbati sayyid al-Mursalin, dan lain-lain.

            Adapun beberapa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang dapat dituangkan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Pentingnya Bermadzhab  

            Sistem pola bermadzhab inilah yang menjadi pemikiran mendasar dari Kiai Hasyim. Karena ini merupakan pandangan yang erat kaitannya dengan sikap beragama dari mayoritas umat Islam yang selama ini disebut Ahlusunnah Waljamaah. Paham bermadzhab ini timbul sebagai upaya untuk memahami ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sebab dalam sejarahnya, berbagai upaya pemahaman terhadap kedua sumber tersebut sering menimbulkan perselisihan pendapat. Oleh karenanya, KH. Hasyim Asy’ari menyimpulkan, untuk pemahaman keagamaan (fiqih) ditetapkan empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali).

Ditegaskan pula bahwa kini tidak mungkin memahami maksud yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa mempelajari pendapat-pendapat ulama besar yang disebut Imam Madzhab. Zamakhsyari Dhafir dalam bukunya Tradisi Pesantren, menuturkan, bahwa menafsiri Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa meneliti referensi kitab-kitab kuning itu, hanya akan menghasilkan pemutar-balikan fakta dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari begitu cemerlang dan terperinci, sehingga banyak ulama yang angkat topi dan mendukung berbagai gagasan serta mendukung organisasi yang dibentuknya, yakni Nahdlatul Ulama.

Pemikiran sistem bermadzhab yang beliau gulirkan, dikemukakan sesuai dengan konteks zaman itu, yakni saat dunia Islam tengah ‘mabuk’ dengan apa yang disebut dengan pembaharu Islam yang dibawa oleh Muhammad Abduh, dan kuatnya paham Wahabi yang mulai menancapkan pengaruhnya di Arab Saudi. Gerakan pembaharuan ini sudah dirasakan oleh KH. Hasyim Asy’ari saat menekuni pendidikan di Arab Saudi.

Bahkan, beliau sendiri bersama para tokoh muda Islam lain, secara tidak langsung tengah melakukan ‘dialog pemikiran’ dengan gagasan Muhammad Abduh dari Mesir itu. Tapi, berbeda dengan banyak kawannya dari Indonesia yang terpengaruh dan terkagum-kagum pada pemikiran Muhammad Abduh, yang antara lain anti madzhab, KH. Hasyim Asy’ari tidak terpengaruh oleh gerakan pembaharu itu.

Tegasnya, untuk memahami ajaran Islam, KH. Hasyim Asy’ari tidak langsung mengambil dari sumber aslinya, Al-Qur’an dan Al-Hadits. Melainkan beliau mencari dahulu beberapa pendapat ulama termasyhur dari abat pertengahan yang terkodifikasi dalam ‘kitab kuning.’ Setelah itu mencocockkan dengan sumber aslinya. Ini dimaksudkan untuk menjaga jangan sampai umat Islam salah dalam menafsirkan kedua sumber ajaran tersebut. 

2. Kewajiban Taqlid bagi Orang yang Bukan Mujtahid

            Di dalam kitabnya yang berjudul Risalah Ahlusunnah Waljama’ah, KH. Hasyim Asy’ari menyatakan:

“Setiap orang yang tidak mempunyai kemampuan ijtihad, wajib mengikuti pendapat ulama mujtahid dan menerima fatwa-fatwa mereka, walaupun ia telah memperoleh sebagaian ilmu yang masuk dalam kualifikasi ijtihad. Allah berfirman, “…maka bertanyalah kepada orang-orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Al-Nahl: 43). Allah mewajibkan bertanya bagi orang-orang yang tidak berpengetahuan, dan itu artinya harus taqlid kepada orang yang berpengetahuan, mencakup seluruh menusia, agar mereka bertanya tentang masalah apapun yang tidak mereka ketahui. Ulama telah sepakat bahwa umat tidak mungkin pintar semua.”

            Dari pernyataan tersebut, menunjukkan bahwa taklid (mengikiuti pendapat orang lain) bagi orang awam hukumnya wajib. Namun sebaliknya, bagi Kiai Hasyim, seorang Muslim yang mampu berijtihad, diharamkan melakukan taqlid. Dan bagi Muslim yang hendak melakukan ijtihad berlaku syarat-syarat yang sangat ketat. Untuk berijtihad mustaqil atau mutlak, artinya tanpa terpengaruh oleh pendapat orang lain, pada zaman sekarang ini, menurutnya sudah tidak mungkin lagi.

 

3. Tarekat

            Masalah tarekat juga tak luput dari sororotan KH. Hasyim Asy’ari. Tarekat sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah SWT jelas tidak dilarang oleh pimpinan pesantren Tebuireng ini. Namun bagi Kiai Hasyim, tidak semua tarekat berjalan sesuai tuntunan syari’at. Karena itu, beliau memperjelas duduk persoalannya secara benar masalah tarekat ini. Beliau menulis d buku yang berjudul Al-Durar Al-Muntasyirah fi Masail Al-Tis’a ‘Asyarah berisi bimbingan praktis agar umat berhati-hati memasuki dunia tarekat.

            Dalam kitab tersebut, Kiai Hasyim menjelaskan secara gamblang, apa arti Wali Allah yang selama ini dijadikan sandaran kaum tarekat. Seperti beliau berpesan, “Hati-hati mengikuti tarekat”.

            Memang kegiatan tarekat tidak jarang menumbuhkan tradisi kewalian. Sikap pengkultusan secara berlebihan dari para jamaah kepada sang guru (mursyid) tersebut akhirnya muncul predikat wali hanya karena ada keanehan-keanehan dari gurunya. Para guru yang mendapat predikat wali itu akhirnya menjadi semakin dihormati jamaahnya dan umat Islam pada umumnya. Pada gilirannya kepemimpinannya semakin kokoh, mengakar, dan secara otomatis akan mengangkat statusnya. Dan nampaknya, status wali sangat efektif dalam mempengaruhi kaum Muslim, sekalipun melakukan kesalahan-kesalahan yang kasat mata bertentangan dengan syari’at. Padahal sebenarnya persoalan wali adalah rahasia ketuhanan yang harus dijaga dan tidak patut dikemukakan.

            Fenomena seperti inilah yang mendorong Kiai Hasyim untuk memperhatikan praktik-praktik tarekat dan sebutan-sebutan wali dari umat Islam awam yang begitu mudah diucapkan. Sikap Kiai Hasyim ini dapat ditelusuri dari pernyataan-pernyataannya seperti, “Di antara cobaan (fitnah) yang merusak hamba pada umumnya ialah pengakuan guru tarekat dan pengakuan wali. Bahkan ada yang mengaku dirinya wali ‘Qutb’ dan ada pula yang mengaku dirinya ‘Imam Mahdi’. Barang siapa yang mengaku dirinya wali, tetapi tanpa kesaksian mengikuti syari’at Rasulullah SAW, maka orang tersebut adalah pendusta yang membuat-buat perkara tentang Allah SWT. Orang yang mengabarkan dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya, melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sirr al-Khusushiyyah (rahasia ketuhanan). Dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”

Namun demikian jelas di situ, Kiai Hasyim bukan orang yang menentang terekat seperti pemikiran Muhammad Abduh, meskipun beliau terkadang menganut sebagian ide Abduh sebagai upaya revitalisasi komunitas Muslim yang tengah dijajah,  ia tetap mempertahankan praktik-praktik religius tertentu seperti tarekat yang masih tetap relevan bagi umat Islam. Setidaknya, sikap positifnya terhadap sufisme terbentuk oleh latar belakang santri maupun pendidikannya. Meskipun Kiai Hasyim tidak menentang sufisme, sebagaimana ulama sunni lain, namun  ia menyarankan kepada komunitasnya untuk tidak menjadi anggota tarekat tanpa meneliti status perkumpulan tersebut, khususnya tentang siapa gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa Kia Hasyim selalu mengambil posisi tengah, termasuk dalam masalah tarekat.

Perhatian KH. Hasyim Asy’ari terhadap masalah tarekat ini kemudian diteruskan oleh KH. Wahab Chasbullah. Hal ini dibuktikan pada tahun 1957, beliau (Kiai Wahab) pergi ke Arab Saudi untuk menanyakan masalah tarekat kepada Syaikh-syaikh di sana. Upaya tersebut dimaksudkan untuk mengetahui mana tarekat-tarekat yang sanadnya wushul (sampai) kepada Nabi SAW, dan mana yang tidak. Akhirnya setelah Kiai Wahab pulang dari tanah suci, berdirilah Jamaah tarekat yang di beri nama Jam’iyyah  Ahl Al- Thariqah Al-Mu’tabarah, yang kemudian pada Muktamar di Semarang, tahun 1979, berubah nama menjadi Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah Al-Nahdliyyah. Jam’iyyah (organisasi) ini bertugas untuk menyeleksi perkembangan dan pertumbuhan tarekat di Indonesia. Tegasnya, jam’iyyah ini merupakan ‘badan sensor’ atas tarekat-tarekat yang berkembang di Indonesia yang sampai sekarang terus menjamur.

 

4. Ziarah ke Makam dan Masjid Nabi SAW 

               Tersebut dalam kitab Al-Nur Al-Mubin fi Mahabbati Sayyid Al-Mursalin, KH. Hasyim Asy’ari menyatakan, “Ketahuilah, bahwa mengunjungi makam Nabi adalah salah satu Ibadah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah SWT) yang paling besar, kebaikan yang paling diharapkan, dan jalan meraih derajat yang paling tinggi. Hukumnya adalah sunah dari sekian banyak sunah umat Islam yang telah disepakati dengan keutamaan yang sangat diharapkan. Siapa yang tidak berkeyakinan demikian, maka dia telah keluar dari dasar-dasar Islam, menentang Allah, Rasul, dan golongan ulama yang alim.”

            Kia Hasyim, kemudian menukil sebuah hadits dari Ibn Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengunjungi kuburku, dia pasti masuk surga”.Juga sabda Nabi yang berbunyi,  Barang siapa melakukan ibadah haji tanpa mengunjungiku, maka di telah lepas dariku”. Dan hadits dari Imam Bukhari yang meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda, “Tidak dianjurkan bepergian kecuali mengunjungi tiga masjid, yakni masjidku ini, masjid al-Haram, dan masjid Al-Aqsha”. Dan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengunjungiku di Madinah dengan ikhlas, maka dia akan menjadi tetanggaku di hari kiamat.”

            Demikian antara lain keterangan KH. Hasyim Asy’ari mengenai ziarah ke makam dan masjid Nabi. Sebenarnya masih banyak hadits-hadits yang yang dicantumkan oleh beliau di dalam kitabnya tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat dasar-dasar bahwa masalah ziarah ke Makam dan Masjid Nabi adalah merupakan hal yang disunahkan. Di samping pula, beliau juga menyampaikan bagaimana tata cara ziarah yang benar, seperti dengan memperbanyak bacaan shalawat dan salam ketika di makam, meminta diberi manfaat atas kunjungannya kepada Allah dan membahagiakannya di dunia dan akhirat, konsisten dengan kesopanan, kekhusukan dan rendah hati. Kemudian dilanjutkan dengan doa ketika sudah sampai pada makam Nabi.

            Pernyataannya dalam masalah ziarah ini, menunjukkan betapa Kiai Hasyim sebagai seorang tokoh yang membela ajaran-ajaran salaf, tidak terpengaruh oleh adanya gerakan-gerakan dari sekelompok umat Islam yang selalu mensyirik-syirikkan umat Islam yang melakukan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. 

5. Wasilah kepada Nabi, Para Wali dan Orang-orang Saleh 

            Bagi Kiai Hasyim, berwasilah adalah boleh dilakukan oleh umat Islam. Sebab wasilah hakikatnya adalah tetap meminta pertolongan kepada Allah SWT, namun melalui orang-orang yang menjadi kekasih-Nya, seperti para Nabi, Wali, dan orang-orang saleh.      

            Masalah wasilah ini juga tercantum dalam kitabnya Al-Nur Al-Mubin fi Mahabbati Sayyid Al-Mursalin. Dituturkannya, “Ketika orang Islam berwasilah kepada Nabi atau lainnya, seperti para wali atau orang-orang saleh, tidak bearti mereka menyembahnya. Berwasilah itu tidak mengeluarkan mereka dari ketauhidannya kepada Allah. Allah sematalah yang memberi manfaat, begitu pula madharat. Jika wasilah itu boleh, maka boleh pula ucapan orang yang mengatakan, “Kita mohon kepada Allah lewat Rasul-Nya atau dengan Wali ini, karena ia memohon kepada allah bukan kepada lainnya”.

            Dalam memperkuat pendapatnya itu, Kiai Hasyim mengambil dasar-dasar dari Al-Qur’an maupun Hadits-hadits Nabi. Seperti pada surat Al-Maidah ayat 35, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan carirah wasilah untuk sampai kepada-Nya”.

            Pengertian wasilah pada ayat ini, menurut Kiai Hasyim bersifat umum, sehingga mencakup wasilah dengan orang-orang yang masih hidup, atau sudah meninggal, dan wasilah dengan melakukan amal-amal saleh.

            Dan hadits yang diriwayatkan oleh Malik yang menceritakan, “Pada masa Umar bin Khathab umat manusia pernah tertimpa kemarau panjang, lalu pergilah seorang laki-laki ke makam Rasul, dia berkata, wahai Rasul Allah, mintalah hujan pada Allah untuk umatmu, karena mereka sungguh telah hancur. Kemudian Rasulullah menemuinya dalam mimpi, beliau bersabda: Temuilah Umar, dan sampaikan salamku padanya, dan sampaikan pula berita bahwa mereka akan diberi hujan, dan katakan padanya, “Kalian semua harus semakin cerdas dan cerdas. Umar kemudian menagis dan berkata, “Mereka tidak bersumpah kecuali aku lemah darinya”.

            Banyak hadits-hadits Nabi yang dicantumkan oleh kiai Hasyim dalam masalah kebolehan umat Islam untuk melakukan wasilah. Bahkan beliau juga mengkritik para tokoh yang mengharamkan umat Islam ‘berwasilah’, seperti Ibn Taimiyah. Dituturkannya, “Tidak ada ahli agama yang menampik hal itu (masalah wasilah), dan tidak juga terdengar perdebatan mengenainya selama beberapa masa, sampai datang Ibn Taimiyah yang berbicara dengan ucapan yang menyerupai orang lemah dan tertindas. Dia (Ibn Taimiyah) membuat hal baru yang tidak ditemui pada masa lalu. Cukuplah sudah bagimu kisah tentang pengingkaran Ibn Taimiyah terhadap ‘istighosah’ dan ‘tawasul’ yang tidak pernah disebut oleh orang-orang alim sebelumnya, dan jadikanlah ia sebagai perumpamaan bagi umat Islam.” 


[1] Untuk lebih lanjut mengetahui secara lengkap Biografi Kiai Hasyim, dapat dibaca buku:  99 Kiai Nusantara, (riwayat, perjuangan, dan, do’a)., oleh KH. Aziz Masyhuri, dan Karisma Ulama (Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU), dengan Editor, Saifullah Ma’sum. Dan risalah ini memang lebih banyak diambilkan dari kedua buku tersebut.

[2] Beliau adalah tokoh yang berasal dari Termas, Pacitan, Jawa Timur. Terkenal sebagai Ahli Hadits dan Fiqih. Bermadzhab Syafi’i. Mengarang kitab Mauhibah dzi Al-Fadhal Syarh Muqaddimah Ba Fadhal  dalam bidang fiqih, sebanyak 4 jilid. Kitab ini sering dijadikan referensi oleh ulama-ulama NU di Indonesia.

[3] Di antara murid-muridnya yang menjadi tokoh adalah: KH. Hasyim Asy’ari sendiri, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Sansuri, KH. Ahmad Dahlan (tokoh Muhammadiyah), Syaikh Muhammad Nur Mufti dari kerajaan Langkat, dan lain-lain. Syaikh Khatib berhasil menjadi ulama dan guru besar yang terkenal di Makkah serta menjadi salah seorang imam di Masjidil Haram untuk penganut madzhab Syafi’i.

Pos ini dipublikasikan di Aswaja dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s