MEDIA PENGEMBANGAN PEMAHAMAN HADIS

MEDIA PENGEMBANGAN PEMAHAMAN HADIS
Secara garis besar, tipologi pemahaman ulama dan umat Islam terhadap hadis diklasifikasikan menjadi dua bagian. Yang pertama adalah tipologi pemahaman yang mempercayai hadis sebagai sumber dari pada ajaran Islam tanpa memperdulikan proses sejarah pengumpulan hadis dan proses pembentukan ajaran ortodoksi. Barangkali tipe pemikirannya yang oleh ilmuwan sosial dikategorikan sebagai tipe pemikiran yang ahistoris (tidak mengenal sejarah timbulnya hadis dari sunnah yang hidup pada saat itu). Tipe ini bisa juga disebut tekstualis. Yang kedua, adalah golongan yang mempercayai hadis sebagai sumber ajaran kedua dari pada ajaran agama Islam, tetapi dengan kritishistoris melihat dan mempertimbangkan asal-usul (asbâb al-wurûd) hadis tersebut. Mereka memahami hadis secara kontekstual. Tipe pemahaman yang kedua ini tidak begitu populer karena pemahaman ini tenggelam dalam pelukan kekuatan Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah yang lebih suka memahami hadis secara tekstual. Pemahaman secara tekstual ini diperlukan oleh Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah karena dorongan untuk menjaga dan mempertahankan ekuilibrium kekuatan ajaran ortodok.
Para pemerhati sejarah agama Islam sangat memahami kedudukan sentral Nabi Muhammad s.a.w. sebagai makhluk historis (yamsyûna fi al-aswâq) (QS al-Furqan, 25: 20) yang selalu berhadapan dengan beberapa pilihan tata nilai yang bcrsifat pluralistik. Bahkan jika ditilik secara lebih tajam, ayat-ayat al-Qur’an yang mengilhami manusia muslim untuk berperilaku dan bertindak di muka bumi, menurut Prof. Arkoun, adalah bersifat Zamâniy dan Makâniy (terkait dengan waktu dan dan tempat), yakni selalu melibatkan dimensi historisitas ruang dan waktu.
Asbâb Wurud al-Hadîts tidak lain dan tidak bukan adalah dimensi historis hadis, dimana fundamental values (nilai-nilai fundamental) selalu ada dibelakangnya.
Demikian juga dengan asbab Nuzul al-Qur’an merupakan dimensi historis al-Qur’an. Untuk faktor keteladanan yang bersifat historis empiris dalam diskursus keberagamaan Islam pada khususnya memang lebih diutamakan dari pada konsepsi teo-filosofis yang transendental.
Konsep asbâb al-nuzûl dan asbâb al-wurûd mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting, yaitu nâsikh-mansûkh, berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama, baik al-Qur’an maupun al-sunnah. Dalam konsep asbâb al-nuzûl, asbâb al-wurûd dan nâsikh-mansûkh. terkandung adanya kesadaran historis dikalangan ahli hukum Islam. Adalah kesadaran historis ini, menurut Hodgson, yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman dimasa depan. Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas, yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. Sebab kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu dan selalu mempunyai dimensi historis, membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun kedalam realita dan warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman ruhani baru”.
Pendekatan historis ini tidaklah berarti relalivisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih dari pada produk pengalaman sejarah belaka. Tetapi hendak mencari pemahaman yang benar atas sebuah teks yang nadir pada kita. Persoalannya adalah bagaimana menangkap makna/pesan ini yang universal itu, yang tidak tergantung kepada konteks, juga tidak kepada sebab khusus dari asbab al-nuzul/al-wurud munculnya suatu ajaran atau hukum.
Makna Asbâb al-Wurûd
Asbâb Wurûd al-Hadîts didefinisikan sebagai keadaan-keadaan dan hal ihwal yang menjadi sebab datangnya hadis dari Nabi s.aw. “Dengan membandingkan pada pembahasan Ilmu Tafsir, mereka memperkenalkan dua (2) macam Asbâb al-Nuzûl, yaitu :
Asbâb al-Nuzûl al-‘Khash, yaitu peristiwa yang terjadi menjelang turunnya suatu ayat.
Asbâb al-Nuzûl al-‘Âm, yaitu semua peristiwa yang dapat dicakup hukum atau kandungan oleh ayat al-Qur’an, baik peristiwa tersebut terjadi sebelum maupun sesudah turunnya ayat itu. Pengertian yang kedua ini dapat diperluas sehingga mencakup kondisi sosial pada masa turunnya al-Qur’an (setting sosial).

Dengan analogi pada Asbâb al-Nuzûl, maka Asbâb al-Wurûd juga bisa dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu Asbâb al-Wurûd al-Khâsh dan Asbâb al-Wurûd al-‘Âm dengan pengertian sebagaimana dinyatakan di atas. Dalam Asbâb al-Wurûd tercakup 3 (tiga) hal pokok yang tidak dapat diabaikan, yaitu: (1) peristiwa, (2) pelaku dan (3) waktu dan tempat.
Pemahaman Tekstual Hadis
Dalam kaitannya dengan Asbâb al-Wurûd, mayoritas ulama mengemukakan kaedah_yang menjadi pedoman dalam memahami teks adalah keumuman lafalnya, bukan sebab khususnya.
Dengan berpijak pada kaedah ini, pandangan menyangkut Asbab al-Wurud dan pemahaman hadis seringkali hanya menekankan kepada peristiwanya dan mengabaikan waktu terjadinya serta pelaku kejadian tersebut. Dengan menggunakan kaedah itu, maka teks yang ‘am yang muncul atas sebab tertentu mencakup objek yang mempunyai sebab itu dan Iain-lain. Dan tidak boleh dipahami bahwa lafal ‘am (umum) itu hanya dihadapkan kepada orang-orang tertentu saja. Ibn Taimiyah berkata bahwa para ulama walaupun berbeda pendapat dalam menghadapi lafal umum yang datang lantaran sesuatu sebab, apakah khusus bagi sebab itu, namun tak ada seorangpun yang menyatakan bahwasanya keumuman lafal al-Qur’an dan al-sunnah khusus dengan orang-orang tertentu. Hanya saja paling jauh dikatakan, bahwa keumuman lafal itu tertentu dengan orang-orang yang semacam itu lalu ia mencakup orang-orang yang menyerupainya, dan tidaklah kaumuman padanya menurut lafal. Ayat yang mempunyai sebab yang tertentu jika merupakan perintah atau larangan, maka ia mencakup orang-orang itu dan selainnya, yang sama keadaannya/kedudukannya. Lafal ‘am dalam sebuah teks walaupun munculnya karena dilatar belakangi oleh sebab khusus, ia mencakup seluruh individu yang bisa ditampung oleh teks itu, tidak tertentu/terbatas berlakunya hanya kepada individu yang menjadi sebab khusus lahirnya teks.
Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w. bersabda, yang artinya: “hendaklah kamu sekalian meringankan dan jangan mempersulit; hendaklah kamu sekalian memberi kabar gembira dan tidak membuat orang lari membuat cemas)”. Hadis ini muncul pada waktu Nabi Saw. akan mengirim Abu Musa dan Mu’adz untuk bertugas di daerah al-Yaman. Perintah Nabi untuk memberi kemudahan dalam beragama dan larangan mempersulitnya berlaku secara umum kepada para pajabat dan penganjur agama, tidak terbatas kepada Abu Musa dan Mu’adz, berdasarkan teks dan lafalnya yang bersifat umum. Selanjutnya Nabi Saw menjelaskan bahwa agama itu mudah tidak sulit dan siapa saja yang mempersulitnya, maka dia akan menemukan kesulitan dalam menjalankan agama tersebut.
Pengembangan Pemahaman Hadis
Dalam kaitannya dengan Asbâb al-Nuzûl/Asbâb al-Wurûd sebagaian kecil ulama mengemukakan kaedah yang menjadi patokan dalam memahami teks adalah sebab khususnya, bukan keumuman teksnya). Setiap Asbâb al-Nuzûl/Asbâb al-Wurûd mencakup 3 (tiga) hal pokok, yaitu : (a) peristiwa, (b) pelaku dan (c) waktu dan tempat. Tidak mungkin kita akan mampu menggambarkan adanya sesuatu peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu di tempat tertentu dan tanpa memahami siapa pelakunya.
Para penganut paham “bi khushûsh al-sabab” menekankan perlunya analogi (qiyas) untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki latar belakang Asbâb al-Nuzûl tetapi dengan catatan apabila analogi tersebut memenuhi syarat-syaratnya. Demikian juga hal ini diberlakukan terhadap hadis-hadis yang mempunyai latar belakang Asbâb al-Wurûd. Pandangan mereka ini hendaknya dapat diterapkan tetapi dengan memperhatikan faktor waktu, karena kalau tidak, ia menjadi tidak relevan untuk dianalogikan. Sebab al-Qur’an dan hadis tidak lahir dalam masyarakat hampa budaya dan bahwa kenyataan mendahului/bersamaan dengan munculnya teks tersebut.
Analogi yang dilakukan hendaknya tidak terbatas kepada analogi yang dipengaruhi oleh logika formal, tetapi analogi yang lebih luas dari itu, yang meletakkan di pelupuk mata al-mashâlih al-mursalah dan yang mengantar kepada kemudahan pemahaman agaaa sebagaimana halnya pada masa Rasul dan sahabatnya. Analogi yang selama ini dilakukan adalah berdasarkan rumusan Imam al-Syafi’i, yaitu: menyamakan cabang dengan pokok karena adanya kesatuan ‘illat) yang pada hakikatnya tidak merupakan upaya untuk mengantisipasi masa depan, tetapi sekedar membahas fakta yang ada untuk diberi jawaban agama terhadapnya dengan membandingkan fakta itu dengan apa yang pernah ada.

Meminjam teori Fazlur Rahman, penafsiran al-Qur’an (teks keagamaan) terdiri dari dua gerakan ganda, dari situasi sekarang ke masa al-Qur’an diturunkan dan kembali lagi ke masa kini. Al-Qur’an adalah respon ilahi melalui ingatan dan pikiran Nabi, kepada situasi moral-sosial Arab pada masa Nabi, khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada masanya. Yang pertama dari dua gerakan di atas terdiri dari dua langkah; pertama: orang harus memahami arti atau makna dari sesuatu pernyataan dengan mengkaji situasi atau problem historis dimana pernyataan al-Qur’an tersebut merupakan jawabannya. Sebelum mengkaji ayat-ayat spesifik dalam sinaran situasi makro dalam batasan-batasan masyarakat, agama, adat istiadat, lembaga-lembaga, bahkan kehidupan secara menyeluruh di Arabia pada saat kehadiran Islam dan khususnya di sekitar Makkah harus dilakukan. Kedua, adalah menggeneralisasikan jawaban-jawaban spesifik tersebut dan menyatakannya sebagai pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum yang dapat disaring dari ayat-ayat spesifik dalam sinaran latar belakang sosio-historis dan ‘illat (ratio-legis, sebab yang melatarbelakangi adanya hukum) yang sering dinyatakan. Gerakan yang kedua, harus dilakukan dari pandangan umum ini ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasi sekarang. Artinya ajaran-ajaran yang bersifat umum harus ditubuhkan (embodied) dalam konteks sosio-historis yang kongkrit di masa sekarang. Ini memerlukan kajian yang cermat atas situasi sekarang dan analisis berbagai unsur-unsur komponennya, sehingga kita bisa menilai situasi sekarang dan mengubah kondisi sekarang sejauh yang diperlukan dan menentukan prioritas-prioritas baru untuk bisa mengimplementasikan nilai-nilai al-Qur’an secara baru pula. Demikian pula halnya dengan hadis.
Yang menjadi persoalan juga adalah bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generalisasi tinggi dari makna immediatenya ke makna universalnya. Berkaitan dengan ini, penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengurus seorang rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya (QS Ibrahim, 14: 4). Bahasa termasuk kategori historis dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata, tetapi juga kulturalnya (budayanya).
Pemikiran keagamaan pada dataran Low tradition, yakni pada dataran realitas historis yang kongkret, sangat terkait dan langsung bersentuhan dengan berbagai bentuk pemikiran yang lain. Sebutlah pemikiran politik, pemikiran ekonomi, pemikiran sosial budaya, pemikiran strategi pertahanan dan keamanan dan seterusnya. Pemikiran keagamaan pada wilayah high tradition, yakni pada dataran konsep, teori-teori yang bersifat kognitif-skematis, barangkali memang agak berbeda dari corak pemikiran-pemikiran manusia yang lain, semata-mata karena adanya kategori “sakralitas” (kesucian) yang dikaitkan dengan keberadaan Kitab Suci.

Jika kita memahami pemikiran keislaman pada dataran low tradition bukan pada dataran hiqh tradition maka sesungguhnya ia sama saja seperti corak pemikiran-pemikiran manusia yang lain. Ia tidak bisa terlepas sama sekali dari keterkaitannya dengan “bahasa” dan “sejarah”. Bahasa terkait dengan konvensi, kontrak sosial, adat istiadat dan akar budaya setempat yang secara berkesinambungan telah berjalan berabad-abad; sedangkan sejarah terkait dengan persoalan kapan, di mana, dan siapa (kapan terjadi, abad berapa, di mana terjadi, dalam situasi politik dan sosial yang seperti apa, standar ekonomi yang bagaimana, tingkat kemajuan ilmu dan teknologi sejauh mana, serta siapa para pelaku dan aktornya dan seterusnya
Pemikiran keagamaan dan keislaman khususnya lebih-lebih pada dataran low tradition, ternyata tidak begitu saja jatuh dari langit dan tidak pula muncul dalam ruangan hampa kebudayaan dan kekosongan dari berbagai peristiwa sejarah yang melingkarinya. Pemikiran keagamaan pada umumnya dan pemikiran keislaman pada khususnya berkembang beserta pandangan dunia (nadhariyyah al-‘alam) yang hidup mengitarinya, Sedangkan pandangan dunia suatu komunitas atau suatu bangsa itu sendiri juga selalu terkait dengan gerak perubahan sejarah dan budaya (prahistoris, historis, agraris, industrial dan post-industrial). Setiap tahapan perkembangan budaya ternyata berpengaruh pada corak pemikiran keagamaan dan pemikiran keislaman yang berkembang di suatu tempat tertentu. Sebagai produk sejarah manusia biasa, ia tidak lepas dari gerak perubahan sejarah sosial budaya yang mengitarinya. Di sini lalu muncul persoalan relevansi yang selalu mengintip dari belakang tabir percaturan pemikiran keagamaan dan pemikiran keislaman kontemporer.
Dengan memahami sebaik dan secermat mungkin keterkaitan antara ketiga komponen eksistensi manusia, yakni keterpautan antara bahasa, pemikiran dan sejarah, sekaligus dalam hubungannya dengan nilai-nilai etis yang hendak diraih, maka akan dimungkinkan pengembangan pemikiran Islam. Keterputusan hubungan antara ketiganya, yakni putusnya hubungan antara pemikiran (keislaman), budaya dan sejarah, yang melatarbelakanginya (sejarah penetapan hukum-hukum agama, sejarah terbentuknya pranata sosial Islam, bahkan sejarah sosial-politik dan perkembangan kontemporer pemikiran Islam dan sebagainya) hampir-hampir dapat dipastikan akan terbentuk proses pensakralan pemikiran keagamaan. Pemikiran keisiaman yang terlepas dari historisitasnya menjadi tidak boleh diperdebatkan ulang, tidak boleh dirubah atau diperbaiki.
Pemahaman terhadap hadis secara umum terbagi menjadi dua (2) kelompok, yaitu pemahaman secara tekstual dan pemahaman secara kontekstual. Hal ini sudah terjadi sejak zaman Rasulullah sendiri. Kasus larangan Nabi shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah dipahami oleh para Sahabat secara beragam. Sebagian sahabat memahami secara tekstual sehingga mereka tidak mclaksanakan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidlah, walaupun waktunya telah lewat. Sementara sebagian yang lain meraahaminya secara kontekstual dalani pengertian perintah untuk bergerak secara cepat menuju ke perkampungan mereka, sehingga tidaklah salah jika dalam perjalanan itu diselingi shalat ‘Ashar, kemudian melanjutkan gerak cepat tersebut.
Salah satu media yang dapat dipakai untuk pengembangan pemahaman hadis adalah pengetahuan tentang ilmu Asbâb al-Wurûd. Dari sini lahir dua (2) macam kaedah yang dipakai sebagai pedoman memahami nakna sebuah teks. Kaedah pertama “Umûm al-Lafzh” (al-‘ibratu bi ‘umûmil lafzh) lebih menekankan kepada keumuman lafal dalam memahami teks; dan kaedah kedua “Khushush al-Sabab” lebih memfokuskan kepada kekhususan sabab, yang penerapannya dilakukan dengan cara analogi (qiyas). Penerapan kaedah “Khushûsh al-Sabab” (al-‘ibratu bi khushûshis sabâb) melibatkan kajian pada bidang-bidang lain yang terkait, sepetti bahasa, sejarah sosial, dan budaya pada masa kehidupan Rasul s.a.w. dan masa kini.
Dengan berpijak kepada Asbâb al-Wurûd, maka pemba(ha)ruan atau pengembangan pemahaman hadis (‘kelihatan’) menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini sejalan dengan ungkapan Ulama Klasik bahwa Islam itu cocok untuk segala tempat dan zaman (Al-Islâmu shâlihun li kulli makân wa zamân). Adalagi ungkapan lain yang relevan adalah bahwa perubahan fatwa atau hukum dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pcrbedaan tempat, perubahan waktu, perbedaan kultural dan perbedaan motivasi pelaku

Pos ini dipublikasikan di artikel Mustholah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s