Existensi Faham Ahlussunnah Wal Jama’ah di Era Global

Existensi Faham Ahlussunnah Wal Jama’ah  di Era Global

Oleh:KH Akhyar

بسم الله الرحمن الرحيم

 

نشكر اللهَ على ما ألْهَمَنا , ونسألُهُ التَّوفيقَ للعمل بِما علَّمَنا , فإنَّ الْخَيْرَ لا يُدْرَكُ إلا بِتَوفِيْقهِِ وَمَعُونَتهِِ, ومن يُضْلِلِ اللهُ فلا هادِيَ له مِنْ خَلِيْقَتِهِ , وَصَلَّى اللهُ على محمد سيّد الأوّلينَ والآخرين , وعلى إخوانه من النبيين والمرسلين , وعلى مَنِ اتَّبَعَ النورَ الذى أُنْزِلَ معه إلى يَومِ الدين . أما بعد : فقد قال الله تعالى: ) يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشآءُ . وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا . وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُوا اْلأَ لْبَابِ ( ( البقرة : 269)

 

“ Allah menganugerahkan Al-hikmah (pengrtahuan yang mendalam)kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dianugerahi Al-hikmah itu, ia benar-benar telah dikaruniai anugerah yang banyak. Dan hanya mereka yang berakal yang meyadarinya”.

 

” الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤمِنِ , أَيْنَ وَجَدَهَا إِلْتَقَطَهَا ” رواه ابن النجار عن بريدة بلفظ ” حيث ما وجدها أخذها. ( الجامع الكبير 4/232) ورواه الترمذى والعسكري . ولفظ الترمذى ” الكلمة الحكيمة ضالة المؤمن , فحيث وجدها فهو أحق بها” وقال : غريب.(كشف الخفاء 1/363,364 . دار إحياء التراث العربي بيروت

 

“ Ilmu pengetahuan itu milik orang Mu’min yang hilang, dimana saja ia temuinya ia (harus) memungutnya”.

 

ما من أمر يجتمع عليه المسلمون أهم من العقيدة، وما من أمر أشد فرقة لرابطتهم واتحادهم من اختلافهم في أمر العقيدة، هذه حقيقة شرعية تاريخية.

الأشاعرة هم أهل السنة والجماعة.

وأنه إذا أطلقت كلمة أهل السنة في كتب العلم- على اختلاف أنواعها- فإنهم هم الذين يرادون بها.وهم الذين تردد الخلافات بينهم وبين المعتزلة، أو غيرهم من الفرق الإسلامية في كتب العقيدة، والفقه، والأصول، والتفسير، والحديث، بل في كتب اللغة، وغير ذلك من كتب العلم التي تعرض للخلاف في العقيدة.

وذلك أن الأشاعرة هم الذين وقفوا في وجه المعتزلة، فزيفوا أقوالهم، وأبطلوا شبههم، وأعادوا الحق إلى نصابه على طريق سلف هذه الأمة ومنهجهم.

وإلإمام أبو الحسن الأشعري لم يؤسس في الإسلام مذهباً جديداً في العقيدة، يخالف مذهب سلف هذه الأمة، وإنما هداه الله تعالى لالتزام مذهب أهل السنة بعد أن أمضى أربعين سنة من حياته على مذهب الاعتزال، عرف من خلالها حقيقة مذهبهم، وتمرس بفنونهم وأساليبهم في الجدال، والنقاش، والنظر، مما مكّنه من الرد عليهم، وإبطال شبههم.

فالماتريدية من أهل السنة، والأثريون من أهل السنة، إلا أن الذي ظهر من أهل ا لسنة ومَثَّلَهم في كتب العلم هم الأشاعرة، ولذلك كانت كلمة أهل السنة إذا أطلقت انصرفت في الغالب إليهم.

على أن جمهرة أهل السنة منهم.

فالمالكية كلهم أشاعرة…

والشافعية كلهم أشاعرة…

والحنفية كلهم أشاعرة أو ماتريدية ولا خلاف بينهم…

وجملة كبيرة من أئمة الحنابلة المتقدمين من الأشاعرة.  وهذا على الجملة.

 

Memahami Aswaja (Ahlussunah Waljamaah) sebagai sebuah madzhab, faham dan metode pemikiran dan pergerakan Islam masih sangat penting, khususnya dewasa ini di mana Islam tengah berada di persimpangan jalan antara kutub kanan dan kiri. Tarik menarik yang terjadi antara dua kutub ini tidak terlepas dari pergulatan Islam itu sendiri dengan realitas yang selalu hidup. Wacana penyegaran pemahamanan keagamaan (Tajdid) kemudian menjadi sebuah kebutuhan jaman yang tidak dapat terelakkan.

 

قال صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّه تَعَالَى يَبْعَث عَلَى رَأْس كُلّ مِائَة سَنَة مَنْ يُجَدِّد لِهَذِهِ الْأُمَّة أَمْر دِينهَا ( د ك والبيهقيّ في المعرفة عن أبي هريرة ) بإسناد صحيح

Boleh dibilang bahwa unsur dinamik yang terdapat dalam agama Islam sejatinya terletak pada multi-interpretasi yang selalu berkembang dalam merespon perubahan realitas yang terjadi melalui satu titik mainstream Islam berupa pedoman kitab dan sunnah yang diyakini oleh umatnya.

Hal ini yang membedakan dengan agama-agama lainnya, penyeregamanan (konvergensi) satu model interpretasi sumber otentik agama yang dimilikinya menjadikan nilai sebuah agama itu justru kehilangan kesegarannya. Betapapun secara historis upaya memunculkan bentuk tafsir yang berbeda tersebut telah ada, namun muaranya lebih kepada pengelupasan agama yang mereka anut dari panggung kehidupan materialistik

konsep2 ASWAJA yang bersifat waqi’iyah wal ‘asriyyah mampu menjadikan kerangka pikir kita langsung brfikir trasformatif ASWAJA mampu menguraikan belenggu kejumudan pola pikir manusia dg tiga asasnya (at tawassut,al i’tidal,at tasamuh,at tawazun,)

Dari sini sesungguhnya yang diperlukan dari kita adalah kearifan untuk menyikapi problematika multi-tafsir pemahaman keagamaan ini secara apresiatif dan tidak dianggap sebagai sebuah pencemaran agama. Yang harus dipersiapkan adalah sejauh mana kesanggupan kita melakukan dialektika yang komprehensif dalam menyaring gagasan mana yang lebih berdaya manfaat dan memberikan kemaslahatan bagi umat Islam masa kini. Di samping kebesaran hati kita untuk membuka pikiran dalam menerima berbagai varian gagasan yang dimunculkan tersebut. Tak terkecuali bagi Aswaja yang telah lama diyakini sebagai teologi yang banyak diyakini atau dianut oleh umat Islam di dunia, ia juga tak ubahnya mangalami dialektika multi-tafsir yang sama. Maka menggiring Aswaja pada satu bentuk konsep yang tunggal akan menyelamatkan umat intrik lawan atau kaki tangannya yang bertopeng baik dengan kedangkalan pemahamannya dalam memahami lautan Islam dan keislaman yang maha luas, atau kesesatan dalam ilmu yang tanpa Khosyatulloh. .    

Sebelum kelompok-kelompok teologis dalam Islam lahir, Ahlussunnah Wal Jamaah (selanjutnya disebut Aswaja) adalah umat Islam itu sendiri. Namun setelah kelompok-kelompok teologis muncul, Aswaja berarti para pengikut Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.

Pada wilayah penggalian hukum fiqh, Aswaja (sebagaimana diwakili oleh Imam yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) bersepakat menggunakan empat sumber hukum: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas; dan tidak bersepakatan dalam menggunakan sumber-sumber yang lain semisal: istihsan, maslahah mursalah, amal ahl al madinah dan lain-lain.

Setelah melalui evolusi sejarah panjang, Aswaja sekarang ini menjadi mayoritas umat Islam yang tersebar mulai dari Jakarta (Indonesia) hingga Casablanca (Maroko), disusul oleh Syi’ah di Iran, Bahrain, Lebanon Selatan; dan sedikit Zaidiyah (pecahan ٍSyiah) di sejumlah tempat di Yaman. Dengan mengacu pada ajaran Muhammad Bin Abdulwahhab, rezim Saudi Arabia berafiliasi kepada apa yang disebut Wahabi. Sementara di Asia Selatan (Afganistan dan sekitarnya) reinkarnasi Khawarij menemukan tanah pijaknya dengan sikap-sikap keras dalam mempertahankan dan menyebarkan keyakinan.

Di Indonesia, Aswaja kurang lebih sama dengan nahdliyin (sebutan untuk jamaah Nahdlatul Ulama), meskipun jamaah Muhammadiyah adalah juga yang mengaku Aswaja dengan sedikit perbedaan pada praktik hukum-hukum fiqh. Artinya, arus besar umat Islam di Indonesia adalah Aswaja.

Yang paling penting ditekankan dalam internalisasi ajaran Aswaja di Indonesia adalah sikap keberagamaan yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat (tawassuth) dan konsisten pada sikap adil (i’tidal). Ciri khas sikap beragama macam inilah yang menjadi kekayaan arus besar umat Islam Indonesia yang menjamin kesinambungan hidup Indonesia sebagai bangsa yang plural dengan agama, suku dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Ada dua kekuatan besar yang menjadi tantangan Aswaja di Indonesia sekarang ini dan di masa depan: kekuatan liberal di satu pihak dan kekuatan Islam politik garis keras di pihak yang lain. Kekuatan liberal lahir dari sejarah panjang pemberontakan masyarakat Eropa (dan kemudian pindah Amerika) terhadap lembaga-lembaga agama sejak masa pencerahan yang dimulai pada abad ke-16 masehi; satu pemberontakan yang melahirkan bangunan filsafat pemikiran yang bermusuhan dengan ajaran (dan terutama lembaga) agama; satu bangunan pemikiran yang melahirkan modernitas; satu struktur masyarakat kapital yang dengan globalisasi menjadi seolah banjir bandang yang siap menyapu masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia.

Yang patut digaris bawahi: dua kekuatan ini, yang liberal dan yang Islam politik garis keras, bersifat transnasional, lintas negara. Kedua-duanya menjadi ancaman serius bagi kesinambungan praktik keagamaan Aswaja di Indonesia yang moderat, toleran, seimbang dan adil itu.

Gempuran kekuatan liberal menghantam sendi-sendi pertahanan nilai yang ditanamkan Aswaja selama berabad-abad dari aspeknya yang sapu bersih dan meniscayakan nilai-nilai kebebasan dalam hal apapun dengan manusia (perangkat nalarnya) sebagai pusat, dengan tanpa perlu bimbingan wahyu. Gempuran Islam politik garis keras menghilangkan watak dasar Islam (Aswaja lebih khusus lagi) yang ramah dan menyebar rahmat bagi seluruh alam semesta.

Dua ancaman riil inilah yang mengharuskan Aswaja di Indonesia untuk mengkonsolidasi diri, merapatkan barisan, memvitalkan kembali modal nilai-nilai luhur yang diturunkan dari ajarannya dan pengalaman sejarahnya. Karena sifat dua tantangan ini yang mondial, maka reaksinya pun harus mondial.

penggairahan masjid sebagai pusat peradaban dan institusi perawatan nilai-nilai juga disadari semakin penting dilakukan. Manakala masjid berfungsi merawat Aswaja, maka serbuan dua ancaman tadi bisa dilawan pengaruhnya.

Tentu saja, penyikapan yang komprehensif harus diupayakan secara menerus. Nilai dilawan nilai. Instrumen dilawan instrumen. Sudah saatnya, pada tingkat instrumen, organisasi penyangga Aswaja di Indonesia memiliki misalnya, stasiun televisi, production house untuk membuat film berbasis nilai-nilai Aswaja, perusahaan penjaga kemandirian ekonomi umat dan segala institusi baru lainnya agar penyikapan komprehensif dan efektif bisa dilakukan secara maksimal.

 

ASWAJA DAN WAWASAN STRATEGIS

 

Persoalan yang muncul hari ini adalajh persoalan perang ideology dan pemikiran, dimana serbuan ideology-ideologi impor begitu kencangnya dan menerobos dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia.Serbuan pemikiran dan ideology tersebut sama bahayanya dan dapat mengoyak-oyak sendi kehidupan bangsa khususnya penghancuran secara sistematis organisasi Nahdlatul Ulama yang mempunyain basis sosial kuat dan kepemimpinan otoritatif para ulama.

Tantangan- tantangan tersebut antara lain:

Munculnya ideology – ideology Islam ,kelompok radikal, dan kelompok islam politik, seperti :Front Pembela Islam(FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI); Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ikhwanul Muslimin (IM), Kelompok Pesrsiapan Penegak Syariat Islam (KPPSI) yang muncul dibeberapa daerah dan menuntut diberlakukanya perda-perda Islam;

Munculnya isu-isu pro pasar dan mendukung sepenuhnya proses penyebaran I liberalisme di Indonesia, demokrasi,pluralisme, multikulturalisme, gender dan lain-lain;

Munculnya aliran-aliran sempalan Islam seperti aliran Lia Eden, Ahmadiyah, Islam Jemaah, LDII, AL-Qiyadah al Islamiyah dan lain-lain;

Kemunculan berbagai ideology dan pemikiran ini harus segera dijawab tetapi bukan dengan reaksioner melainkan dengan cara membumikan ajaran aswaja menjad aplikatif, tranformatif, dan berpihak kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

 

ASWAJA DAN MABADI KHOIRO UMMAH

 

Aswajsa mengupayakan wujudnya masyarakat ideal dan terbaik (khaira ummah). Hal ini telah diupayakan khususnys oleh NU sejak 1935 dengan konsep Mabadi Khaira Ummah. Tokoh-tokoh NU berpendapat bahwa proses pembentukan masyarakat yang ideal dan terbaik dapat dimulai dengan menanamkan nilai-nilai al-shidq (kejujuran), al-amanah wa al-wafa bil ‘ahd (dapat dipercaya dan pemenuhan komitmen), al-‘adalah (berlaku adil), al-ta’awun (tolong menolong) dan al-istiqomah (berkesinambungan). Dua hal yang disebut terakhir dilengkapi di Bandar Lampung tahun 1992.

Dalam tatanan implementasi mabadi’ khaira ummah sangat berkaitan dengan konsep “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” (istilah yang diperkenalkan oleh al-Qur’an dalam al-A’raf 157:…ya’muruhum bi al-ma’ruf wa yanhahum ‘an al-munkar…). Konsep memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar merupakan instrumen gerakan, sekaligus barometer keberhasilan  mabadi’ khira ummah. Amar ma’ruf mengandung pengertian bahwa setiap orang Islam mempunyai kewajiban moral bagi dirinya dan mendorong orang lain berperilaku positif, berbuat baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia  baik secara fisik maupun non fisik, melakukan yang dapat memberikan implikasi positif bagi manusia di sekitarnya. Segala aktivitas individu diupayakan mempunyai basis sosial yang tinggi, sehingga kemajuan yang diraih oleh seseorang secara otomatis memberikan dampak kemajuan terhadap orang lain.  Pemahaman seperti ini tidak boleh mandeg, apalagi mati di Era Global ini.

Mabadi Khoiro Ummah, merupakan langkah penting bagi pengembangan organisiasi dan dinamika masyarakat kini.

Dengan adanya moralitas itu beberapa persoalan bisa dihadapi secara lebih jelas dan mudah. Seringkali kalangan pimpinan/tokoh kehilangan argumen ketika harus membela sikap dan pendirian aqidahnya, hanya karena tidak menguasai prinsip dasar (Mabadi) tersebut.. Dengan ditegakknya kembali moralitas prinsip dasar tersebut. Kita telah memiliki sistem nilai yang baku yang bisa digunakan sebagai pegangan dalam berpikir, bersikap dan bertindak,

السبب الرئيسى المعوق لقوة الأمة فى تنفيد الأمر بالمعروف والنهي عن النكر وإقامة تعاليم الإسلام هو الفقر (الجهل) والضعف فى المجال الإقتصادى. بهذا السبب هم غير قادرين لتحميل وطيفتهم كخير أمة ” فقال تعالى : { كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ } (آل عمران:110)

خمسة مبادئ أساسية لحل هذه المشكلات :

أ‌)       الصدق : معناه الأمانة والجد وعدم الكتمان. الأمانة هي أن ينطبق القول بالفعل, والكلام بالفكر. ما يطلع فى الظاهر يناسب بما فى الصدر. والصدق : (فى هذا النحو) هو الإلتزام وعدم خلاف الواقع عمدا أو عدم إخبار ما يضل ولو نحو نفسه.

ب‌)    الأمانة والوفاء بالعهد . الأمانة : صفة يقدر صاحبها على تنفيذ ما يكلف عليه من التكاليف, سواء من الأمور الدينية أم الإجتماعية. فإنه يجتنب إنسان بهذه الصفة أنواع التلاعب بالواجب والمنصب الذى فى يده. والوفاء بالعهد : تنفيذ العهود على ما شرط عليه والعهود التي بين العبد والرب تعالى وبين العبد وأخيه. والوفاء بها: عدم نكثها والإخلال بمقتضاها

ت‌)     العدالة : إعطاء كل ذى حق حقه. أو طاعة نحو نظم وأخذ الموقف بالحكمة.

ث‌)     التعاون : هو ركن من أركان حياة المجتمع , لأن الإنسان لا يعيش وحده بدونه. ويشمل تعريف التعاون على المعاونة والتضامن , والمعاونة على البر والتقوى. أمر الله تعالى بالتعاون على البر والتقوى، أي: على أداء الواجبات والفضائل، وترك المحرمات والرذائل، ونهاهم عن التعاون عن ضدها، فقال عز وجل: {وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة:2] .

ج‌)     الإستقامة : هي العمل المستمر والإستدامة والإستمرار. فمعنى العمل المستمر هو التثبت وعدم الميل عن الطريقة التى شرعها الله ورسوله لعباده, وبالتالى, العمل بما اتفق عليه السلف الصالح والمخططات المتفق عليها. والإستدامة هي وجود العلاقة بين عمل واحد وآخر وبين مرحلة وأخرى حتى تكون كالجسد الواحد يشد بعضها بعضا. وأما الإستمرار هو تنقيذ عمل بعد عمل دوما لا ينقطع ولا يتوقف بمرور الزمن.

 

Kaum santri akan mampu bersaing di era kompetitif dengan bekal prinsip dasar “Mabadi Khoiro ummah” disertai sikap at tawassuth, at Tawazun dan at Tasamuh.

 

التوسط : هو طريقة واسطة لا تميل إلى اليمين ولا اليسار. ولا يزال فهم أهل السنة والجماعة يقدم موقف التوسط أو الإعتدال فى مقابلة المسائل التوحيدية والشرعية والأخلاق (الصوفية )  وكذلك تفضيل موقف العدل فى مواجهة المشكلات الإجتماعية حتة لا يؤخذ الإقتراب المتطرف.

التوازن : وهو حفط الإنسجام والإتزان حتى يتزن بين الأمور الدنيوية والأخروية وبين المصلحة العاجلة والآجلة.

التسامح : هو أن يتسامح فى جملة الآراء المختلفة ولا سيما فى المسائل الفروعية حتى لا يتزاعج أمة الإسلام ولا يتباغضوا ويتنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحهم.

 “تنبيه هام “

 إيقاظ الشعور بالمسؤولية فى كل ضمير هو الخطة التى أجمعت عليها أقوال الحكماء والمربين .

1 –  مسؤولية كل امرىء أمام نفسه .

2 –  مسؤولية أمام الأمة

3 –  مسؤولية أمام الله وحده .

وَمِثْلُنَا مِثْلُ قولِهِ r ” إنّمَا مَثَلُ الْعَالِمِ كَمَثَلِ  يَنْبُوعٍ مِنْ مآءٍ يَسْقِى بَلَدَهُ وَمَنْ مَرَّ بِهِ و كَذَا العَالِمِ يَنْتَفِعُ بِهِ أَهْلُ بَلَدِهِ وَمَنْ مَرَّ بِهِ ” . وَقَالَ أيضًا : ” مَثَلُ النَّاسِ وَ الإِمَامِ كَمَثَلِ الْفُسْطَاطِ  لا يَقُو مُ إلاَّ بِعَمُودٍ ,  ولا يَقُومُ الْعَمُودُ إلاَّ بِالأَوتَادِ , فَكُلّمَا نُزِعَ وَتَدٌ ازْدَادَ الْعَمُودُ وَهْنًا ” . رِوَايَاتٌ رَوَاهَا الْحَكِيْمُ التّرْمُذِى فِى الأَمْثَال منَ الْكِتَابِ والسنَّةِ.

Pos ini dipublikasikan di Aswaja dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s