Transaksi Salam

Transaksi Salam
oleh:Muh Anas

Aqad Salam merupakan bagian dari jual beli, karna itu rukun dan syaratnya sama dengan jual beli, hanya saja aqad Salam mempunyai syarat- syarat tambahan yang tidak dimiliki oleh transaksi jual-beli, agar dikemudian hari tidak terjadi sengketa antara dua orang yang melakukan transaksi tersebut. karna aqad ini tidak terkait langsung dengan barang yang dibeli

Kata salam dan salaf secara etimologi adalah taat dan tunduk, secara terminologi aqad Salam adalah menjual barang dengan hanya menyebutkan kriterianya saja yang menjadi tanggungan penjual(مسلم اليه) dengan menggunakan sighat salam atau salaf[1], bila transaksi Salam tersebut menggunakan sighat bai’ maka menurut pendapat yang mu’tamad tidak tergolong aqad Salam tetapi termasuk akad jual-beli sehingga tidak membutuhkan syarat-syarat tanbahan yang ada dalam akad Salam[2]

Fuqoha’ lebih cenderung menggunakan istilah salam daripada salaf karna istilah itu lebih mashur dan merupakan lughot Hijaz sementara istilah salaf lebih mashur digunakan mereka dalam aqad Qordl(hutang-piutang)

Adapun dalil yang mendasari diperbolehkanya aqad Salam adalah Al-Quran, Hadist dan Ijma’[3]

v  Al-Quransuratal-Baqoroh ayat 282

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Artinya,:Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya(QS.al-Baqoroh.282)

v  Hadis Bukhori Muslim

مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Artinya,:Barang memesan barang maka hendaknya mereka memesan barang dalam takaran,timbangan dan tempo yang jelas(HR.Bukhori Muslim)

v Paraimam telah sepakat atas diperbolehkanya aqad Salam

Dalam aqad Salam barang yang dipesan(مسلم فيه) itu penyerahannya bisa dilakukan secara langsung atau ditempokan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.bila dalam transaksi Salam penyerahan barang yang dipesan(مسلم فيه) tidak disinggung sama sekali maka barang tersebut wajib diserahkan pada orang yang memesan(مسلم) sebelum keduanya berpisah dari majlis aqad menurut pendapat yang kuat(الاصح),adapun penyerahan uang(رأس المال) harus secara langsung.

Aqad Salam itu sah bila barang yang dipesan (مسلم فيه) memenuhi 5 syarat antara lain:

1)      Mempunyai sifat-sifat yang bisa dibuat untuk mengetahuinya secara pasti.bukan sifat-sifat yang cenderung menyebabkan kelangkaanya

2)      Bukan merupakan hasil campuran dari beberapa unsur yang masing-masing unsurnya tidak diketahui.

3)      Tidak dimasak dengan menggunakan perantaraan api

4)      Tidak boleh ditentukan semisal

اسلمت إليك هذا الدينار في هذا الثوب

5)      Bukan merupakan bagian dari sesuatu yang telah ditentukan semisal

اسلمت إليك هذا الدينار في ثوب صفته كذا وكذا من هذه الصبرة

 

Adapun syarat sahnya aqad salam ada 8 antara lain:

1)      Menyebutkan sifat-sifatnya barang yang dipesan(مسلم فيه  ) yang dapat mempengaruhi harganya besertaan dengan menyebutkan jenis dan daerahnya.

2)      Menyebutkan kadarnya barang yang dipesan(مسلم فيه  ) baik dengan menggunakan timbangan,takaran,hitungan atau yang lain disesuaikan dengan jenis barangnya seperti semangka maka penentuan kadarnya memakai timbangan bukan takaran,adapun semisal padi,jagung itu penentuan kadarnya bisa memakai timbangan atau takaran.

3)      Bila penyerahan barang yang dipesan(مسلم فيه  )  secara tempa(مؤجل) maka harus dijelaskan kapan waktu jatuh temponya

4)      Barang yang dipesan(مسلم فيه  ) umumnya sudah ada disaat wajib untuk diserahkan.

5)      Menyebutkan tempat penyerahan barang yang dipesan(مسلم فيه  ) bila tempat terjadinya transaksi tidak layak dijadikan tempat penyerahan semisal ditengah lautan atau layak akan tetapi untuk membawa barang yang dipesan(مسلم فيه  )  dari tempat  yang umunya ia ditemukan ketempat transaksi membutuhkan biaya.

6)      Tsaman atau uang(رأس المال) harus ma’lum baik dengan hanya mengetahi kadarnya saja atau melihat secara langsung.

7)      Orang yang berpesan(مسلم) wajib menyerahkan tsaman(رأس المال) pada penjual(مسلم اليه) sebelum mereka berpisah dari tempat transaksi.

8)      Tidak disyaratkan khiyar syarat.


[1]Al-Baijuri Ibrohim.TT.al-Bajuri syarh Fathil Qorib. Semarang: Toha Putra,juz 1 hlm.353.

[2]Ibid, hlm..342.

[3]Al-Jaziri.Abdurrahman.2005.al-Fiqh ala madzahibil arba’ah, Istanbul Hakikat Kitabevi.Juz 3 hlm 267.

Pos ini dipublikasikan di Artikel Fiqh menarik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s