KONSEP AL-HAJR ATAU PENCEKALAN

KONSEP AL-HAJR ATAU PENCEKALAN

Oleh :Muh Anas

Hajr adalah sebuah bentuk pengekangan penggunaan harta dalam transaksi jual-beli atau yang lain pada sseorang yang bermasalah. Mengingat aqad Salam dan konsep Hajr sangat erat sekali hubunganya dengan jual beli,maka dari itu dalam kitab-kitab klasik dua hal ini dituturkan setelah membahas transaksi jual-beli,untuk lebih jelasnya bisa dicermati dalam pembahasan berikut ini.

Al-hajru secara etimologi adalah mencegah, dan secara terminologi adalah mencegah penggunaan harta.dalil diterapkannya( الحجر) adalah firman Alloh dalam surat al-Baqoroh ayat 282

فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَفَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ

Maka jika  orang yang berhutang itu adalah orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (QS.al-Baqoroh.282)

Maksud dari ayat tersebut adalah bila pengakuan orang yang berhutang tidak mu’tabar karna beberapa hal diatas maka yang mu’tabar adalah pengakuan walinya

Menurut Imam syafii[1]

  • kata (سفيه) itu mempunyai arti orang yang menghambur-hamburkan harta.
  • Kata ( ضعيفا ) itu mempunyai arti anak kecil.
  • Kata ( لا يستطيع الخ )mempunyai arti orang gila.

.

Menurut Imam Fahrur Rozi[2]

kata (سفيه) mempunyai arti orang baligh yang lemah akalnya

Kata ( ضعيفا )mempunyai arti anak kecil,orang gila, orang yang hilang akalnya secara total

Kata ( لا يستطيع الخ ) mempunyai arti orang yang tidak mampu mengimla’ baik karna bisu atau karna kebodohannya

Ditinjau dari sisi fungsinya al-Hajru dibagi menjadi dua:

1        Al-hajru yang diterapkan untuk kemaslahatan orang yang dicegah menggunakan hartanya (محجور عليه) seperti al-hajru pada anak kecil, orang gila dan orang yang kurang akalnya

2        Al-hajru yang diterapkan untuk kemaslahatan orang lain seperti al-hajru pada orang yang pailit, orang sakit parah, budak, murtad, dan orang yang menggadaikan.

Orang-orang yang dicegah menggunakan hartanya menurut Syaikh Abu Suja’ ada 6, dan menurut Syaikh Ibrahim Al-Baijuri ada 8 dengan perincian sebagai berikut:

1        Anak kecil. (الصبي)

Ia meskipun sudah tamyiz tidak sah melakukan transaksi jual beli, bersedekah,memberikan harta pada orang lain karena ucapannya tidak mu’tabar,ia juga tidak bisa menjadi wali nikah atau melakukan akad nikah sendiri meskipun atas persetujuan wali. Ibadahnya anak kecil yang telah tamyiz hukumnya sah, ia juga diperkenankan memberikan izin masuk rumah,menyampaikan hadiah dari orang yang terpercaya, memiliki kayu bakar dan hewan buruan yang diperolehnya.[3]

Menurut Ulama’ hanafiyah[4] anak kecil yang belum tamyiz tidak sah melakukan transaksi apapun,bila ia sudah tamyiz maka hukumya diperinci sebagai berikut:

ü  Tidak sah bila transaksi itu menimbulkan kerugian yang jelas pada hartanya seperti talaq, memerdekakan budak, meminjamkan uang dan bersedekah.

ü  Sah bila yang dilakukan bermanfaat meskipun tanpa persetujuan walinya seperti menerima hibah,masuk islam

ü  Sah tidaknya tergantung wali bila transaksi itu masih memungkinkan untung dan rugi  seperti transaksi jual-beli,wali tidak boleh memberi restu bila transaksi jual-beli tersebut menyebabkan kerugian yang signifikan.

Anak kecil tercegah menggunakan hartanya tanpa menunggu vonis dari Qodli karna itu bila ia baligh dalam kondisi cerdas dalam urusan agama dan harta maka ia langsung bisa menggunakan hartanya.[5]

Imam Nawawi[6] dalam kitab Majmu’ mengatakan bahwa”Imam Ahmad ibn Hambal dan syaikh Ishaq berpendapat bahwa transaksi jual beli yang dilakukan anak kecil adalah boleh secara mutlak (tanpa izin wali) bila yang ditashorrufkan termasuk hal hal yang remeh dan boleh dengan seizin wali bila yang ditashorrufkan termasuk barang barang yang bernilai (mahal atau banyak)”.

2        Orang gila. (المجنون)

Ia tidak diperbolehkan melakukan transaksi jual beli, bersedekah,menjadi wali,ibadahnya tidak sah begitu juga melakukan akad nikah meskipun atas persetujuan wali karena ucapan dan perwalianya tidak mu’tabar,namun ia diperkenankan memiliki kayu bakar dan hewan buruan yang diperolehnya.[7]

Orang gila tercegah menggunakan hartanya tanpa menunggu vonis dari Qodli karna itu bila ia sembuh maka ia langsung bisa menggunakan hartanya[8]

3        Orang yang kurang akalnya (السفيه)

Safih adalah orang bodoh yang menghambur-hamburkan hartanya tanpa kemanfaatan sedikitpun yang kembali pada dirinya baik kemanfaatan duniawi atau ukhrowi, ia tidak diperbolehkan menggunakan hartanya baik dalam rangka jual beli atau yang lain,ibadahnya sah begitu juga menunaikan zakat.[9]

Bila tindakan menghambur-hamburkan harta tadi muncul setelah ia baligh dalam kondisi cerdas maka larangan ini baru berlaku bila sudah ada putusan dari hakim,sebelum ada putusan hakim transaksi jual belinya dihukumi sah-sah saja.

Bila tindakan menghambur-hamburkan harta tadi muncul saat ia baligh dalam kondisi tidak normal, maka larangan tersebut tetap berlaku meskipun tidak ada putusan dari Qodli,[10]

4        Orang yang pailit(المفلس)

Muflis adalah orang yang pailit yang banyak terlilit hutang dan hartanya tidak cukup untuk melunasinya, ia tidak boleh menggunakan sisa hartanya tadi demi menjaga hak-hak dari orang-orang yang telah menghutanginya, larangan ini baru bisa berlaku setelah ada putusan hakim. Ia(muflis) sah melakukan transaksi jual beli, bila dilakukan secara tempo,ia juga boleh melakukan pernikahan dengan mahar yang ditempokan.

Hakim wajib melarang muflis atau walinya menggunakan hartanya setelah ada permintaan dari orang-orang yang punya piutang atau muflis sendiri.[11] 

5        Orang yang sakit parah

Orang yang sakit parah  dan orang yang berada dalam kondisi yang menghawatirkan seperti penumpang perahu saat diterpa angin yang sangat kencang atau diterpa ombak yang dahsyat itu tidak boleh menggunakan hartanya untuk sedekah, hibah, wasiat bila telah melebibihi dari 1/3 hal ini di syari’atkan untuk kepentingan ahli waris, larangan ini tidak membutuhkan adanya putusan dari hakim, bila penggunaannya telah melebihi 1/3 hartanya maka kelebihannya tadi tergantung pada sikap ahli waris setelah ia meninggal, bila ahli waris rela maka sedekah, hibah dan wasiatnya sah.

Bila ahli waris tidak rela maka tidak sah, bila ahli waris rela kemudian mereka membuat pengakuan bahwa mereka rela karena mempunyai asumsi kelebihannya tadi Cuma sedikit dan kenyataanya adalah banyak, maka ahli waris dibenarkan.

6        Budak yang tidak mendapat izin berdagang dari tuannya.

Ia tidak boleh menggunakan harta tuannya tanpa izin, karna itu transaksi jual beli yang dilakukan tidak sah, apabila barang yang telah ia beli menjadi rusak, maka barang itu menjadi tanggungannya dalam arti ia dapat dituntut untuk melunasinya setelah merdeka..

Hal ini di syari’atkan untuk menjaga hak-haknya kaum muslimin karena bila ia mati maka hartanya menjadi harta fai, larangan melakukan transaksi jual beli itu bisa hilang bila ia telah masuk islam lagi.

7        Orang yang menggadaikan.

Ia tidak boleh menjual barang yang telah dijadikan jaminan tanpa seizin orang yang menerima gadai.hajr dalam hal ini tidak butuh putusan dari Qodli.

8        Orang murtad.

Ia tidak boleh melakukan transaksi saat murtad.Hal ini disyariatkan untuk menjaga haknya kaum muslimin,mengingat bila ia mati hartanya menjadi harta fai’[12],larangan tersebut menjadi tidak berlaku bila ia telah kembali masuk islam

Sebetulnya masih banyak lagi macam-macam hajr yang disebudkan dalam khazanah kitab-kitab klasik seperti kitab Muhimmat yang dikarang oleh Imam Asnawy,beliau menjelaskan bahwa ada kuran lebih 30 macam hajr


[1] Al-Baijuri. al-Bajuri syarh Fathil Qorib. hlm.364

[2]Al-Rozi.Muhammad ibn Umar ibn Husain.TT.Tafsir al-Fakhru al-Rozi.al-Maktabah al-Syamilah.juz 1 hlm.1052.

[3]Al-Baijuri.al-Bajuri hlm.368

[4]Al-Jaziri..al-Fiqh ala madzahibil arba’ah,.Juz 3 hlm 288.

[5]Al-Baijuri.al-Bajuri hlm.365

[6]Abdul al-Rahman ibn Muhammad Ba Alawy.TT.Bugyatul al-Mustarsidin.Darul al-Fikr.hlm.124.

[7]Ibid, hlm..368

[8]Ibid, hlm..366

[9]Ibid, hlm..368

[10]Ibid, hlm..366

[11]Ibid, hlm..366

[12]Ibid, hlm..368

Pos ini dipublikasikan di Artikel Fiqh menarik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s