PROBLEMATIKA DALAM IBADAH HAJI

PROBLEMATIKA DALAM IBADAH HAJI

Oleh:Muhammad Anas

Haji merupakan ibadah yang telah disyariatkan sejak nabi Adam , beliau menunaikan ibadah haji sebanyak 40 kali berangkat dari India dengan berjalan kaki

Haji dan Umroh merupakan salah satu rukun islam yang pelaksanaanya wajib dilakukan sekali seumur hidup bagi oang yang telah mampu baik secara fisik maupun materi, karna hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup sehingga sering terjadi masalah-masalah yang butuh penyelesaian secara fiqhiyyah semisal haid saat towaf ifadloh, sentuhan lawan jenis, lempar jumroh sebelum tengah hari bahkan saat ini banyak terjadi lempar jumroh sebelum fajar.  Apalagi kita tahu Negara Arab Saudi saat ini dipimpin oleh Raja yang berpaham wahabi yang sering kali mengadakan perubahan-perubahan pada tempat-tempat pelaksanaan haji semisal jamarot, perluasan tempat sa’i, mina jadid.

Haid saat pelaksanaan Towaf ifadloh, sementara bila menunggu suci  akan ditinggal oleh  kloternya

Menurut  ulama’ syafi’iyyah wanita dalam kondisi seperti ini disarankan untuk mengikuti kloternya hingga sampai pada satu tempat yang yang dirasa sulit baginya untuk kembali ke makkah, dan ditempat itu juga ia melakukan tahallul sebagaimana orang yang dikepung oleh musuh yakni menyembelih kambing dan mencukur rambut dibarengi dengan niat  tahallul , setelah itu hal-hal yang diharamkan sebab ihrom menjadi halal baginya namun ia masih mempunyai tanggungan towaf yang harus dikerjakan tahun depan jika ia mampu.[1]Namun solusi ini dirasa sangat memberatkan tekait dengan situasi dan kondisi saat ini, karna itu sebagaian ulama’ menyarankan agar taqlid pada Imam Ahmad atau Imam Abu Hanifah yang menghukumi sah towafnya wanita haid dengan konsekwensi  menyembelih unta badanah dan dosa karna memasuki masjid dalam kondisi haid.[2]Bila wanita yang mengalami haid tadi melakukan haji tamattu’ maka ia harus nia ihrom haji saat itu juga hingga hajinya menjadi haji qiron[3]

Bersentuhan   dengan  wanita ketika thowaf

Suatu kejadian yang hampir pasti di alami oleh para jamaah haji lelaki ketika melaksanakan thowaf adalah bersentuhan dengan kaum perempuan .hal ini di karenakan mayoritas jamaah haji India dan Pakistan mengikuti mazhab  hanafi yang berpendapat  bahwa  aurotnya wanita  saat ibadah adalah 2/3 dari setiap anggota tubuh atau ½ nya.jika lelaki yakin tersentuh oleh kulit perempuan yang terbuka maka kedudukan lelaki tersebut adalah sebagai malmus, yang dalam pembahasan hukumnya terdapat dua qoul[4], menurut qoul yang ashoh wudlu’nya batal. Dalam masalah tabrakan (laki – laki dan perempuan  melakukan gerakan yang mengakibatkan sentuhan) maka keduannya sama- sama berkedudukan sebagai lamis dan para ashhabusyafi’i sepakat wudlu’ mereka batal.[5]karna itu solusi paling tepat adalah berwudlu ala madhab hanafi dengan ketentuan sebagai berikut:

FARDLU – FARDLU WUDLU

  1. Membasuh wajah.
  2. Membasuh dua tangan sampai siku.
  3. Mengusap seperempat kepala
  4. (Kira-kira selebar telapak tangan).
  5. Membasuh dua kaki sampai mata kaki.
  6. (Niat dan tertib tergolong sunat bukan  fardlu).

HAL- HAL YANG MEMBATALKAN WUDLU

  1. Keluarnya najis dari badan dan keluarnya seperma.
  2. Hilangnya akal (gila, epilepsi dan mabuk).
  3. Tidur berbaring/duduk/terlentang/tengkurap.
  4. Bersetubuh dengan tampa penghalang, baik dengan sejenis/dengan lawan jenis. (Bersentuhan dengan wanita selain dengan Jima tidak membatalkan, kecuali bila alatnya berdiri dan tidak ada penghalang yang tebal, atau keluar sesuatu semisal Madzi).
  5. Tertawa keras, bagi orang baligh yang sadar (bila wudlu tidak dihasilkan dari mandi wajib).
  6. Darah yang keluar dalam mulut, bila sama/lebih banyak dari ludahnya.
  7. Air muntahan yang banyak (hingga memenuhi mulut).

SYARAT- SYARAT WUDLU

  1. Punya akal (tidak gila/epilepsi/mabuk).
  2. Tamyiz walau masih kecil (belum baligh).
  3. Tidak haid dan tidak nifas.
  4. Meratakan air ke anggota wudlu.
  5. Tidak ada sesuatu yang bisa menghalangi sampainya air ke anggota wudlu.
  6. Tidak ada perkara yang kontra dengan wudlu (semisal hadats di tengah-tengah wudlu).
  7. Air yang bisa mensucikan.

 

Miqot Jedah bagi gelombang II

Untuk jamaah haji indonesia gelombang    1   tentu tidak ada masalah dengan di tetapkan Bir Ali sebagai miqot akan tetapi tetapi untuk gelombang ke 2 banyak sekali jama’ah haji kita  yang menjadkan Jedah sebagai Miqot (permulaan niat ihrom haji). Melihat letak geografis  mekkah yang berada di daerah barat utara indonesia maka miqot jamaah glombang dua adalah qornul manazil. akan tetapi jamaah di perkenankan meliwati miqot tanpa ihrom dengan catatan akan melakukan ihrom dari tempat yang jaraknya ke mekkah minimal sama dengan jarak miqot tersebut, apabila jamaah tidak mengetahui di mana posisi qorn atau daerah sejajarnya , atau tidak mengetahui bahwa jarak Jeddah ( bandara ) ke mekkah minimal sama dengan jarak qorn atau sejajarnya ke mekkah maka jamaah harus bertindak ikhtiyath dengan cara melakukan ihrom dari tempat yang di yakini belum meliwati miqot.Perlu diketahui jarak antara makkah dan Qornul manazil adalah 92,16 km sementara jarak Bandara King Abdul Aziz yang ada di Jedah saat ini dengan makkah adalah 107 km oleh karna itu ihrom dari tempat tersebut diperkenankan.[6]

Melempar Jumroh Dan Nafar Awal Sebelum Tergelincirnya Matahari Pada Tanggal 12 Dzulhijjah

Terdorong oleh adanya isu dan omongan-omongan dari mereka yang berbicara tentang hukum serta demi keamanan jamaah mengingat bahaya dalam melempar jumroh setelah tergelincirnya matahari maka banyak jamaah haji kita yang melempar jumroh pada tanggal 12 dzulhijjah sekaligus meninggalkan mina sebelum tergelincirnya matahari.dalam madhab Syafi’I Waktu melontar Jamrah pada hari tasyriq dimulai setelah tergelincirnya matahari menurut qaul yang ashah (Imam Nawawi), dan boleh sebelum tergelincirnya matahari, menurut qaul yang kedua (Imam Rafii) (ket. Matan Syarwani hal.138/4. ). Hal ini dibenarkan tapi makruh, menurut pendapat Imam Rafii  (ket. Tarmasi hal.531/4):

ـ وقيل يصح رمي الحاضرقبل الزوال لكن مع الكراهةوجزم به الرافعي واعتمده الأسنوي ـ

Hal tersebut dibenarkan karena qaul yang mutamad adalah qaul ashah bukan qaul shaheh (ket. Syarwani hal.531/4):

  قوله كما صوب المصنف قد يفيد هذا التعبير  ـ  ـ

sedangkan muqabilnya qaul ashah boleh diamalkan, berbeda dangan muqabilnya qaul shaheh, karena biasanya muqabilnya qaul shaheh itu fasid (tidak tepat)(ket. Ianatut Tholibin hal. 19/1):

 – وأما الأقوال الضعيفة –

Sementara yang diterangkan oleh Imam Ibni Hajar dalam syarah Idlach hal.406. Bahwa tidak diperbolehkan melontar jamrah sebelum tergelincirnya matahari (hanya ada satu qaul), yang berarti qaul yang mutamad adalah qaul saheh, itu ditakwil dengan yang dijelaskan dalam kitab Tarsyihul Mustafiddin hal.186.):

ـ قوله تداركه ـ

Sedangkan nafar awal tidak boleh sebelum tergelincirnya matahari meski menurut qaul tersebut (ket.Syarwani hal.138/4):

  ـ قوله فينبغي جوازه ـ

Oleh karena itu bagi jemaah haji yang nafar awal sebelum tergelincirnya matahari wajib kembali ke Mina dan jika tidak kembali maka harus membayar satu mud, karena tidak mabit pada malam 13 Dzilhijjah dan membayar dam muqaddar murattab, karena tidak melontar jamrah pada tgl. 13 Dzilhijjah.

Dam tamattu’

Mayoritas jamaah haji Indonesia memilih tamattu’ sebagai metode pelaksanaan haji dan umroh dengan konsekwensi membayar dam yang dalam pelaksanaannya banyak menyisakan pertannyaan semisal apakah hewan yang disembelih sudah memenuhi standart kecukupan hewan dam? di mana pelaksanaannya? Kepada siapa harus di bagikan?

Perlu diketahui standart hawan dam adalah

  1. Kambing gibas berumur 1 tahun atau sudah menanggalkan gigi depan setelah umur 6 bulan.
  2. Kambing jawa sapi , kerbau, yang minimal berumur 2 tahun.
  3. Unta yang minimal berumur lima tahun

Penyembelihan mulai di perbolehkan setelah menyelesaian amalan umroh dan boleh di tunda sampai kapanpun dengan catatan di sembelih di wilayah harom dan minimal di bagikan kepada tiga orang miskin tanah haram[7] baik pribumi ataupun pendatang.

Berjamaah Di Masjidil Harom

Diantara rutinitas haji yang tidak boleh diabaikan adalah sholat berjama’ah, sementara para imam Masjidil Harom dalam prakteknya tidak membaca basmalah sementara mayoritas jama’ah Indonesia mempunyai keyakinan bahwa membaca basmalah adalah wajib,Sahkah sholat mereka?

Perlu anda ketahui bahwa  Ulama’ syafi’iyyah berbeda pendapat dalam menyikapi hal itu,Sah menurut Ibnu Hajar dan Imam Romli bila ma’mum punya duga’an bahwa sang imam membaca basmalah secara pelan didukung qorinah ada jeda sebentar  antara takbirotul ihrom dan hamdalah, menurut Imam Qoffal sah secara mutlak[8]

Perluasan Masjidil Haram Terkait Dengan Towaf

Seiring dengan perkembangan zaman Masjidil harom tiap tahun semakin diperluas, bagaimana keafsahan towaf para jama’ah  ditempat perluasan tersebut?Ashabus Syafi’I berpendapat bahwa jika masjidil harom diperluas maka secara otomatis tempat towaf semakin luas.[9]

Perubahan Marma

Melempar jumrah dilakukan tiga kali bagi nafar awal (orang yang hendak kembali ke Mekkah pada tanggal 12 dzulhijjah) dan dilakukan empat kali bagi nafar tsani (orang yang hendak kembali ke Mekkah pada tanggal 13 Dzulhijjah).

Pada hari raya nahar tanggal 10 Dzulhijjah hanya melempar jumrah aqabah saja (7 kali lemparan).

Waktunya mulai tengah malam hari raya nahar (tanggal 10 Dzilhijjah) dan harus sudah melakukan wukuf di tanah Arafah, sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.

Pada hari tasyriq yang pertama tanggal 11 Dzilhijjah. Melempar tiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) masing-masing 7 kali lemparan.

Waktunya mulai tergelincirnya matahari menurut sebagian ulama dan mulai keluarnya fajar menurut sabagian yang lain (kita boleh mengikuti pendapat yang kedua), sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.

Pada hari tasyriq yang kedua tanggal 12 Dzilhijjah. Melempar tiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) masing-masing 7 lemparan.

Waktunya mulai tergelincirnya matahari menurut sebagian ulama dan mulai keluarnya fajar menurut sebagian yang lain (kita boleh engikuti pendapat yang kedua), sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.

Pada hari tasyriq yang ketiga tanggal 13 Dzilhijjah. Melempar tiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) masing-masing 7 lemparan.

Waktunya mulai tergelincirnya matahari menurut sebagian ulama dan mulai keluarnya fajar menurut sebagian yang lain (kita boleh mengikuti pendapat yang kedua), sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzilhijjah.

Syarat-syarat melempar jamrah.

  1. Melempar tujuh kali.
  2. Menggunakan tangan selagi bisa.
  3. Yang dilemparkan termasuk jenis batu (bukan sandal atau yang lain).
  4. Leparan ditujukan ke tempat lemparan (lihat gambar jamrah).
  5. Lemparan mengena tempat lemparan (lihat gambar jamrah).

Kesunatan – kesunatan melempar jamrah:

  1. Membaca takbir setiap kali melemparkan batu.
  2. Menggunakan tangan kanan.
  3. Dalam keadaan suci.
  4. Batunya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil (kira – kira sebesar ujung jari).

Perubahan / perluasan tempat – tempat manasik terus saja terjadi dari tahun ketahun. Pada musim haji tahun 1425 H / 2005 M ini terjadi perubahan bentuk Marma ( tempat pelemparan jamarot ) dari bentuknya yang bundar ( Ula dan Wustho ) dan setengah lingkaran ( ‘Aqobah ) dengan tugu berdiri tegak ditengah – tengahnya menjadi bentuk lonjong ( oval ) dengan tembok memanjang ditengah – tengahnya. Dan hal demikian dilakukan oleh pemerintah Saudi arabiyah untuk menghindari kepadatan para Hujjaj saat melempar jamarot yang sering menimbulkan kurban. Sebagai komunitas santri yang tanggap kita layak untuk merespon fenomena ini karena menyangkut kepentingan umat islam sedunia.

Bentuk dan luas Marma bisa di rubah selama tetap menjaga keabsahan Romyu, untuk yang terjadi saat ini diperbolehkan , memandang keabsahan ibadah masih terjaga

Perlu diketahui bahwa definisi marma sebelum adanya perubahan adalah bumi tempat berkumpulnya kerikil yang berada disekitar tugu pelemparan yang jaraknya diperkirakan tidak lebih dari 3 Dziro’ atau 140 cm dari segala arah dari tugu pelemparan kecuali jumroh aqobah maka hanya satu arah saja karna arah yang lain saat itu tertutup oleh gunung.  bila pada marma tersebut dibangun menara yang tinggi dan punya atap apakah sah kita melampar jumroh pada menara tersebut?Imam Syibly dan Ibn Jamal berpendapat bahwa hal tersebut adalah sah[10]

Jama’ qosor di Arafah

Menjama dan mengqashar shalat yang sering dilakukan oleh sebagian jemaah haji Indonesia di arafah, dibenarkan untuk jama sedangkan untuk qashar tidak dibenarkan. Sebab dalam jama ada dua pendapat: a) Jama di Arafah ini diperbolehkan karena safarnya, sehingga tertentu untuk perjalanan jauh (92,16km). b). Jama di Arafah ini diperbolehkan karena nusuknya (ibadah haji) yang konsekuensinya tidak tertentu untuk perjalanan jauh, inilah qaul yang harus mereka ikuti, sebab perjalanan mereka tidak jauh, karena antara Makkah dan Arafah hanya ada 25km, sementara masafatul qashri (jarak diperbolehkan mengqashar shalat) itu 92,16km. Sedangkan untuk qashar, ulama sepakat hanya husus untuk perjalanan jauh. (ket. Idlach hal. 308):

ـ ولا يقصر ـ

Oleh karenanya bagi jemaah haji yang menjama dan mengqashar di Arafah wajib qodlo, sebab shalatnya tiak sah, karena salam setelah rakaat kedua, sementara mereka harus itmam/ menyempurnakan empat rakaat.

Mina jadid

Jemaah haji Indonesia biasanya ditempatkan di Charratul lisan atau bahkan di tempat yang lebih jauh dan orang Arab menyebutnya Mina jadid, padahal sebenarnya Mina dimulai dari Wadil Muhassir sampai ke jamratul Aqabah yang jaraknya 3,456km. Dan semua gunung yang menghadap ke Mina termasuk Mina, sementara yang berpaling tidak termasuk Mina (ket.Idlach hal.350(: ـ اعلم أن حد منى  ـ

Oleh karena itu, bagi mereka yang tempatnya di Charratul lisan atau bahkan lebih jauh, harus keluar ke Mina untuk melaksanakan mabit separuh malam lebib (qaul ashah) atau hadir menjelang fajar hingga fajar terbit (muqabilul ashah). Keharusan untuk keluar di atas bila mengikuti qaul ashah yang mengatakan mabit di Mina adalah wajib dan menurut pendapat lain mabit tersebut hukumnya sunat.

Memakai sabuk dan jam tangan

Termasuk hal-hal yang diharamkan untuk laki-laki yang menjalankan ihram adalah memakai sesuatu yang bisa meliputi seluruh badan/anggota (dan disamakan dengan anggota adalah jenggot), baik berbentuk jahitan, ikatan atau tenunan (ket. Idlach hal.171):وإنما يحرم فيه  ـ  ـ

Karena itu diperbolehkan memakai sesuatu yang sekira tidak meliputi seluruh badan/anggota, dengan kata lain tidak meliputi sama sekali/hanya meliputi setengah anggota, seperti sabuk biasa, sabuk yang ada sakunya (walaupun dipkai seperti biasa, yakni diikat) dan jam tangan (ket. Idlach hal.173):

ـ ويشد على وسطه   ـ

Mencium Hajar aswad

Termasuk sunnuh-sunat tawaf adalah mengusap serta mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani, tiga kesunatan ini sekarang tidak bisa untuk diperaktekkan oleh orang yang sedang ihram, sebab semua dinding Kabah saat ini telah diberi minyak Hajar Aswad, sementara orang yang sedang menjalankan ihram tidak boleh memakai minyak wangi atau menyentuhnya. Oleh karena itu, jika ingin mengamalkan tiga kesunatan ini hendaknya dilaksanakan saat tawaf sunat di luar ihram.

Mabit Di Muzdalifa

Hukum mabit di muzdalifah adalah wajib menurut sebagian ulama dan sunnah menurut sebagian yang lain. Hendaknya mengikuti pendapat yang kedua jika rombongan tidak melakukan mabit.

Waktunya mulai tengah malam hari raya nahar (tanggal 10 Dzilhijjah) dan harus sudah melakukan wukuf di Arafah ,sampai keluarnya fajar tanggal 10 Dzilhijjah.

Jika tidak melakukan mabit maka wajib membayar fidyah menurut pendapat yang pertama dan sunnah membayar fidyah menurut pendapat yang kedua.


[1] Sulaiman al-Jamal.TT. Hasiyah al-Jamal.Bairut, Dar al-Fikr. juz :2 hal:429

[2] Imam Syarwani.TT,Hawasi Syawani, Maktabah syamilah. juz :4 hal:142

[3] Ibnu Qudamah.TT.al-Sarhu al-Kabir. Maktabah syamilah. juz :3 hal:248

[4] Imam Nawawi.TT.Al-Majmu’ sarh Muhaddab. Maktabah syamilah. juz :2 hal:26

[5] Imam Nawawi.TT.Al-Majmu’ sarh Muhaddab. Maktabah syamilah. juz :2 hal:29

[6] Sulaiman al-Jamal.TT. Hasiyah al-Jamal.Bairut, Dar al-Fikr. juz :2 hal:405-406

[7] Syaih Syamsuddin .TT.Hamis al-Bajuri.juz 1 hal:336

[8]  Bugyatul Mustarsidin.hal 99

[9]Imam Nawawi.TT.Al-Majmu’ sarh Muhaddab. Maktabah syamilah. juz :8 hal:39

[10] Imam Syarwani.TT.Hawasissarwani.Syamilah juz 4 hal 134

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Artikel Fiqh menarik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s